LANGIT7.ID-Jakarta; Israel dan Hamas kembali saling tuding pada Sabtu (12/7), menyusul belum tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Gaza, meski pembicaraan tak langsung antara kedua pihak sudah berjalan hampir seminggu.
Seorang sumber Palestina yang mengetahui isi diskusi di Qatar mengatakan bahwa rencana Israel untuk tetap mempertahankan pasukannya di Gaza menjadi penghambat tercapainya kesepakatan jeda pertempuran selama 60 hari.
Namun dari pihak Israel, seorang pejabat politik senior menyebut bahwa justru Hamas yang bersikap keras kepala dan sengaja menggagalkan upaya damai tersebut.
Sementara itu di lapangan, Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa lebih dari 20 orang tewas di berbagai wilayah Gaza pada Sabtu, termasuk dalam serangan udara tengah malam di kawasan yang menjadi tempat pengungsian warga sipil.
“Waktu kami tidur, tiba-tiba ada ledakan... tempat dua anak laki-laki, satu anak perempuan, dan ibu mereka sedang tinggal,” kata Bassam Hamdan kepada AFP setelah serangan itu di Gaza City.
“Kami menemukan mereka sudah hancur, potongan tubuh mereka terpencar-pencar,” lanjutnya.
Di Gaza selatan, jenazah-jenazah dibungkus plastik putih dan dibawa ke Rumah Sakit Al-Nasser di Khan Younis. Sementara warga yang terluka di Rafah dibawa menggunakan gerobak keledai, tandu, atau digendong ke fasilitas medis.
Baik Israel maupun Hamas sama-sama menyatakan bersedia membebaskan 10 sandera yang masih ditahan sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 — jika tercapai kesepakatan gencatan senjata.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa dirinya siap untuk memulai pembicaraan damai permanen jika gencatan senjata jangka pendek berhasil.
Rencana Zona Gaza?Namun seorang sumber Palestina mengatakan bahwa penolakan Israel terhadap tuntutan Hamas — agar seluruh pasukan Israel ditarik total dari Gaza — menjadi penghalang utama dalam proses negosiasi.
Sumber kedua menyebut bahwa mediator telah meminta kedua pihak untuk menunda pembicaraan sampai utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, tiba di Doha, Qatar.
“Negosiasi di Doha sedang mengalami kemunduran dan kesulitan rumit karena sikap Israel pada Jumat lalu yang bersikeras menyodorkan peta penarikan pasukan, padahal sejatinya itu adalah peta reposisi ulang pasukan Israel, bukan penarikan sungguhan,” ujar sumber pertama.
Ia menambahkan bahwa Israel berniat tetap menempatkan pasukan militernya di lebih dari 40 persen wilayah Gaza, sehingga memaksa ratusan ribu warga sipil yang mengungsi untuk tinggal di area sempit dekat Rafah, perbatasan dengan Mesir.
“Delegasi Hamas tidak akan menerima peta Israel itu... karena intinya justru melegitimasi pendudukan ulang atas setengah wilayah Gaza dan menjadikan Gaza terpecah-pecah tanpa jalur keluar masuk maupun kebebasan bergerak,” tegasnya.
Pejabat senior Israel membalas dengan menyatakan bahwa Hamas-lah yang menolak usulan yang ada di meja perundingan. Ia menuding Hamas “menciptakan hambatan” dan “menolak berkompromi” dengan tujuan “menggagalkan negosiasi”.
“Israel telah menunjukkan sikap terbuka dan fleksibel dalam negosiasi, sementara Hamas tetap kaku dan bertahan pada tuntutan-tuntutan yang menyulitkan para mediator untuk mencapai kesepakatan,” ujarnya dalam pernyataan yang dikirim ke AFP.
Serangan Hamas ke Israel pada 2023 menewaskan sedikitnya 1.219 orang, mayoritas warga sipil, menurut data AFP yang mengacu pada catatan resmi Israel. Dari 251 sandera yang disandera Hamas, 49 masih ditahan — termasuk 27 orang yang menurut militer Israel telah meninggal.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa lebih dari 57.882 warga Palestina tewas sejak perang dimulai, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.
Operasi Militer Masih JalanMiliter Israel pada Sabtu mengklaim telah menyerang “sekitar 250 target teroris di seluruh Jalur Gaza” dalam 48 jam terakhir.
Target tersebut termasuk “anggota kelompok teroris, bangunan yang dipasangi ranjau, gudang senjata, titik peluncur rudal antitank, pos penembak jitu, terowongan, serta fasilitas teroris lainnya,” demikian pernyataan militer Israel.
Sebelumnya, dua gencatan senjata sempat tercapai: satu berlangsung seminggu pada akhir November 2023, dan satu lagi selama dua bulan sejak pertengahan Januari tahun ini. Dua jeda ini memungkinkan pembebasan 105 sandera, ditukar dengan ratusan tahanan Palestina.
Sumber Palestina kedua mengatakan bahwa “ada sedikit kemajuan” dalam perundingan terbaru, khususnya soal pertukaran tahanan dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Netanyahu, yang menghadapi tekanan dari dalam negeri maupun dunia internasional untuk segera mengakhiri perang, mengatakan bahwa syarat utama gencatan senjata permanen adalah menetralkan Hamas sebagai ancaman keamanan. Termasuk di dalamnya adalah perlucutan senjata.
Jika tidak, katanya, maka Israel akan memaksakan hal itu lewat jalur militer.
(lam)