BTN mempercepat transformasi bisnis melalui digitalisasi layanan, modernisasi cabang, dan sistem loan factory untuk memperkuat layanan finansial keluarga Indonesia.
BTN menghadapi tantangan serius dengan penurunan laba 9,75% dan perlambatan kredit. Meski aset tumbuh 11,88%, tren negatif di berbagai indikator keuangan menunjukkan kebutuhan strategi baru. Pergeseran komposisi DPK dengan lonjakan deposito 25,04% dan penurunan NII 11,01% menjadi fokus perbaikan. BTN perlu inovasi dan efisiensi untuk membalikkan keadaan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Direktur Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono menilai rencana akuisisi UUS BTN oleh BSI sebaiknya dibatalkan karena lemah dalam mengembangkan perbankan syariah.
Rencana merger UUS Bank BTN Syariah ke BSI justru akan melemahkan sektor perumahan. Terlebih, BTN selama ini dikenal fokus dalam mengembangkan layanan pendanaan perumahan.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk bekerja sama dengan PT Fintek Karya Nusantara (LinkAja) mengembangkan uang elektronik syariah pertama di Indonesia. Kemudahan dalam transaksi nontunai berbasis syariah menjadi tujuan menuju transformasi digital.
Kinerja apik BTN membuat sejumlah analis merekomendasikan pembelian saham berkode BBTN dengan target harga atau target price (TP) hingga mencapai Rp2.600.