Rupiah ditutup menguat 128 poin ke level Rp17.860 per dolar AS setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5 persen. Sentimen positif domestik dan pelemahan dolar AS menjadi pendorong utama penguatan mata uang Garuda.
SBY mengapresiasi penguatan rupiah dan IHSG sekaligus memberikan sejumlah pesan penting kepada pemerintahan Prabowo, mulai dari menjaga kesehatan APBN, mengendalikan utang, menekan inflasi, hingga memperkuat komunikasi publik untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Rupiah diperkirakan melemah ke kisaran Rp17.950Rp18.250 per dolar AS di tengah konflik AS-Iran dan meningkatnya tekanan ekonomi domestik. Pelemahan kurs dinilai memperburuk biaya produksi, memicu PHK, serta menekan daya beli masyarakat.
BI dan pemerintah menyiapkan dua strategi baru untuk menjaga stabilitas rupiah, yakni meningkatkan daya tarik investasi dan memperkuat likuiditas pasar. Langkah ini diharapkan mampu menarik kembali investor asing dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Pakar ekonomi ITS Muhammad Ubaidillah mengungkap strategi mitigasi pelemahan rupiah yang tembus Rp17.600 per dolar AS, mulai dari penguatan UMKM hingga hilirisasi industri nasional.
Dosen UB Wildan Syafitri mengingatkan masyarakat tak panik saat rupiah melemah ke Rp17.000 per dolar AS. Ekspektasi pasar, capital outflow, dan ketergantungan impor jadi faktor utama.
Didik J Rachbini menilai keberhasilan Habibie menguatkan rupiah dari Rp16.800 ke Rp6.500 per dolar ditopang pemulihan kepercayaan pasar, reformasi institusi, dan independensi BI.
Bank Indonesia mengungkap penyebab rupiah tertekan, mulai dari konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, hingga kebutuhan dolar untuk haji, dividen, dan utang luar negeri.
Rupiah anjlok ke Rp16.408 saat Trump picu perang dagang global. Goldman Sachs turunkan peringkat Indonesia karena risiko fiskal. Apa yang terjadi selanjutnya dengan nilai tukar rupiah? Cek analisis lengkapnya di sini.