Menurut kajian sejarah, benih tasawuf muncul di zaman Tbiin, generasi setelah sahabat. Tanpa nama atau jargon mistik, mereka dikenal sebagai nussk (ahli ibadah) dan zuhhd (asketik).
Dalam salah satu sabdanya yang populer dan sahih, Rasulullah ? menetapkan sebuah garis terang dalam sejarah umat Islam. Sebaik-baik manusia adalah masaku, lalu generasi sesudahnya, lalu generasi sesudahnya.
Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa, mungkin karena ketidaktahuan, kehati-hatian, atau lagi-lagi pertimbangan politis.
Imam Syafi'i meriwayatkan dari Wahab bin Kaysan. Ia melihat Ibn Zubair memulai salatnya sebelum khotbah, kemudian berkata: Semua sunnah Rasulullah SAW sudah diubah, sampai salat pun.
Amirul mukminin berkenan menjadikannya sebagai pendamping dan memanfaatkan ilmunya ketika menghadapi kesulitan, memakai pandangannya setiap kali membutuhkan dan menjadikan dia sebagai utusannya untuk bernegoisasi dengan raja-raja di muka bumi.
Said bin Musayyab adalah seorang tabiin yang zuhud. Beliau menolak pinangan al-Walid,putra Khalifah Abdul Malik untuk putrinya, dan justru memilih duda miskin sebagai menantu.
Dialah Ashamah bin Abjar yang dikenal dengan sebutan An-Najasyi. Ketika beliau wafat, Nabi SAW melakukan salat ghaib untuknya, salat yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya.