Bukan sekadar kiasan psikologis atau gejala alam, eksistensi jin adalah realitas objektif yang terekam dalam Sunnah. Dari lembah Makkah hingga konsensus para imam, keberadaan mereka tak terbantahkan.
Bukan sekadar dongeng pengantar tidur, keberadaan jin adalah fondasi akidah yang termaktub dalam teks suci. Al-Qur'an mengupas realitas mereka sebagai makhluk yang juga memikul beban syariat.
Ritual itu disebut iqsam, cara yang penuh kesyirikan. Penyihir bersumpah dengan nama jin-jin besar, menyebut para pemuka mereka, lalu memerintah mereka.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa dalam kehidupan, godaan dan tipu daya tidak selalu datang dalam rupa yang menakutkan. Kadang ia hadir dengan wajah kelaparan dan alasan yang mengiba.
Pada awalnya jin amat takut kepada manusia. Hanya saja, karena kesalahan manusia, jin menjadi sangat berani dan sering mengganggu anak adam. Jin terus meningkatkan gangguannya, agar manusia semakin takut kepada dirinya.
Siapakah sejatinya Dajjal itu? Apakah dia sebangsa manusia, ataukah makhluk gaib macam setan atau jin. Ada yang bilang, Dajjal adalah blasteran manusia dan jin. Ayahnya, manusia dan ibunya jin.
Jin sering kali menampakkan diri di masa Rasulullah SAW. Kadangkala mereka tampil laiknya manusia. Hal ini terjadi, misalnya, pada saat awal Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul.