Abu Nuwas atau Abu Nawas, Ahli Maksiat yang Bertaubat
Muhajirin
Kamis, 13 Januari 2022 - 18:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Di telinga orang Indonesia, nama Abu Nawas sudah tak asing lagi. Dalam kumpulan kisah-kisah penuh hikmah, namanya kerap hadir sebagai penghias. Ia digambarkan sebagai orang yang gemar bersenda gurau dan cerdik.
Sebenarnya, ada distorsi sejarah mengenai keberadaan Abu Nawas ini. Pakar sejarah peradaban Islam, Ustadz Budi Ashari, mengatakan, nama dari Abu Nawas adalah Abu Nuwas.
Abu Nuwas merupakan penyair masyhur pada era Bani Abbasiyah dengan kehidupan hedonis seperti dikesankan dalam hikayat 1001 Malam (Alfu Lailatin wal Lailah). Abu Nuwas memang gemar meminum khamr, sampai-sampai dia menulis syair mengajak orang bermaksiat.
Dia pernah menulis syair tentang sensasi meminum khamr berjudul Khamriyyat. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah menyebut Abu Nuwas sebagai orang yang gemar bersenang-senang dengan banyak wanita dan dianggap sebagai orang zindiq.
Abu Nuwas juga hidup sezaman dengan Imam Syafi'i. "Imam Syafi'i sampai mengatakan, kalau bukan karena maksiatnya Abu Nuwas maka saya akan belajar pada dia," kata Budi Ashari, dikutip kanal YouTube ruslianor maika, Kamis (13/1/2022).
Namun, meski terjerumus dalam kubangan maksiat, Abu Nawas sempat menuntut ilmu agama, yakni ilmu Al-Qur'an, ilmu hadits, dan sastra Arab melalui sejumlah ulama. Itu yang membuat akhir hidup Abu Nuwas sangat indah.
Dalam satu riwayat, Imam Syafi'i sampai menangis saat melayat ke rumah Abu Nuwas. Dia datang saat Abu Nuwas meninggal, namun tidak mau menyolatkan. Saat akan dimandikan, orang-orang menemukan secarik kertas di lengan bajunya. Riwayat lain mengatakan di bawah tempat tidur.
Sebenarnya, ada distorsi sejarah mengenai keberadaan Abu Nawas ini. Pakar sejarah peradaban Islam, Ustadz Budi Ashari, mengatakan, nama dari Abu Nawas adalah Abu Nuwas.
Abu Nuwas merupakan penyair masyhur pada era Bani Abbasiyah dengan kehidupan hedonis seperti dikesankan dalam hikayat 1001 Malam (Alfu Lailatin wal Lailah). Abu Nuwas memang gemar meminum khamr, sampai-sampai dia menulis syair mengajak orang bermaksiat.
Dia pernah menulis syair tentang sensasi meminum khamr berjudul Khamriyyat. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah menyebut Abu Nuwas sebagai orang yang gemar bersenang-senang dengan banyak wanita dan dianggap sebagai orang zindiq.
Abu Nuwas juga hidup sezaman dengan Imam Syafi'i. "Imam Syafi'i sampai mengatakan, kalau bukan karena maksiatnya Abu Nuwas maka saya akan belajar pada dia," kata Budi Ashari, dikutip kanal YouTube ruslianor maika, Kamis (13/1/2022).
Namun, meski terjerumus dalam kubangan maksiat, Abu Nawas sempat menuntut ilmu agama, yakni ilmu Al-Qur'an, ilmu hadits, dan sastra Arab melalui sejumlah ulama. Itu yang membuat akhir hidup Abu Nuwas sangat indah.
Dalam satu riwayat, Imam Syafi'i sampai menangis saat melayat ke rumah Abu Nuwas. Dia datang saat Abu Nuwas meninggal, namun tidak mau menyolatkan. Saat akan dimandikan, orang-orang menemukan secarik kertas di lengan bajunya. Riwayat lain mengatakan di bawah tempat tidur.