Hikmah Dirahasiakannya Hari Akhir, Umat Tidak Boleh Berleha-leha
Jaja Suhana
Ahad, 16 Januari 2022 - 10:10 WIB
Masjid Raya Bintaro Jaya. Foto: Jaja Suhana.
Salah satu hikmah dibalik dirahasiakannya hari akhir, yakni agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah dengan tulus dan tidak bergantung kepada deadline. Hal itu disampaikan oleh Dosen Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an (PTIQ) Jakarta, Dr Taufiqurrahman dalam tausiyahnya di Masjid Raya Bintaro Jaya, Sabtu (15/1/2022).
"Allah merahasiakan waktunya untuk melakukan identifikasi, siapa-siapa yang pengabdiannya dalam hidup ini tulus tanpa pernah berpikir bahwa akan mendapat reward," ujar Taufiqurrahman.
Lulusan Fakultas Ushuludin Universitas Al Azhar Kairo itu mengatakan umat Islam tidak boleh hanya bergantung kepada batas waktu dalam beribadah sebagaimana kebiasaan yang dilakukan dalam aktifitas sehari-hari. Jika orang bergantung kepada deadline, maka yang dia lakukan biasanya bermalas-malasan.
Baca Juga:Masjid Raya Bintaro Jaya Makmurkan Masyarakat Lewat Pasar Amal
Dirahasiakannya waktu terjadinya kiamat mengisyaratkan bahwa manusia tidak boleh berleha-leha dalam beribadah. Tidak ada jaminan seseorang akan hidup lama karena yang tahu ajal seseorang hanyalah Allah Swt.
"Jangan terpaku kepada kewajiban yang sudah ditetapkan atau ketentuan yang sudah digariskan, dalam konteks beribadah hal itu tidaklah produktif," ujar Taufiqurrahman.
Baca Juga:Susah Tidur di Masa Pandemi, Mungkinkah Terserang Coronasomnia?
"Allah merahasiakan waktunya untuk melakukan identifikasi, siapa-siapa yang pengabdiannya dalam hidup ini tulus tanpa pernah berpikir bahwa akan mendapat reward," ujar Taufiqurrahman.
Lulusan Fakultas Ushuludin Universitas Al Azhar Kairo itu mengatakan umat Islam tidak boleh hanya bergantung kepada batas waktu dalam beribadah sebagaimana kebiasaan yang dilakukan dalam aktifitas sehari-hari. Jika orang bergantung kepada deadline, maka yang dia lakukan biasanya bermalas-malasan.
Baca Juga:Masjid Raya Bintaro Jaya Makmurkan Masyarakat Lewat Pasar Amal
Dirahasiakannya waktu terjadinya kiamat mengisyaratkan bahwa manusia tidak boleh berleha-leha dalam beribadah. Tidak ada jaminan seseorang akan hidup lama karena yang tahu ajal seseorang hanyalah Allah Swt.
"Jangan terpaku kepada kewajiban yang sudah ditetapkan atau ketentuan yang sudah digariskan, dalam konteks beribadah hal itu tidaklah produktif," ujar Taufiqurrahman.
Baca Juga:Susah Tidur di Masa Pandemi, Mungkinkah Terserang Coronasomnia?