Sunnah Berkendara, Nyetir Sendiri dan Tidak Lebihi Kapasitas
Fajar adhitya
Ahad, 23 Januari 2022 - 06:16 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7/iStock.
Sunnah bagi sesorang pemilik kendaraan untuk menyetir kendaraannya sendiri. Hal demikian termasuk adab dalam mengendarai kendaraan.
عَنْ بُرَيْدَةَ يَقُولُ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي جَاءَ رَجُلٌ وَمَعَهُ حِمَارٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ارْكَبْ وَتَأَخَّرَ الرَّجُلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أَنْتَ أَحَقُّ بِصَدْرِ دَابَّتِكَ مِنِّي إِلَّا أَنْ تَجْعَلَهُ لِي قَالَ فَإِنِّي قَدْ جَعَلْتُهُ لَكَ فَرَكِبَ. (رواه أبوا داود)
Dari Buraidah, berkata; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan, terdapat seorang laki-laki yang datang membawa seekor keledai dan berkata; wahai Rasulullah, naiklah! Dan orang tersebut berhenti.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak, engkau lebih berhak terhadap hewan tungganganmu, kecuali engkau memberikannya kepadaku.” Ia berkata; aku telah memberikannya kepada engkau. Kemudian beliau menaiki keledai tersebut. (HR. Tirmidzi).
Baca Juga:Adab Ketika Melihat dan Mendengar Musibah Kecelakaan
Saat berkendara, sesorang boleh memberi tumpangan dan merupakan hal yang dianjurkan. Adapun adab membonceng adalah tidak menaikkan penumpang melebihi kapasitas kendaraan.
Nabi Muhammad pernah membonceng sebagiansahabat beliau, seperti Mu’adz, Usamah, dan Al-Fadhl. Demikian pula beliau pernah membonceng ‘Abdullah bin Ja’far dan Al-Hasan atau Al-Husain secara bersamaan dan juga selain mereka.
عَنْ بُرَيْدَةَ يَقُولُ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي جَاءَ رَجُلٌ وَمَعَهُ حِمَارٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ارْكَبْ وَتَأَخَّرَ الرَّجُلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أَنْتَ أَحَقُّ بِصَدْرِ دَابَّتِكَ مِنِّي إِلَّا أَنْ تَجْعَلَهُ لِي قَالَ فَإِنِّي قَدْ جَعَلْتُهُ لَكَ فَرَكِبَ. (رواه أبوا داود)
Dari Buraidah, berkata; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan, terdapat seorang laki-laki yang datang membawa seekor keledai dan berkata; wahai Rasulullah, naiklah! Dan orang tersebut berhenti.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak, engkau lebih berhak terhadap hewan tungganganmu, kecuali engkau memberikannya kepadaku.” Ia berkata; aku telah memberikannya kepada engkau. Kemudian beliau menaiki keledai tersebut. (HR. Tirmidzi).
Baca Juga:Adab Ketika Melihat dan Mendengar Musibah Kecelakaan
Saat berkendara, sesorang boleh memberi tumpangan dan merupakan hal yang dianjurkan. Adapun adab membonceng adalah tidak menaikkan penumpang melebihi kapasitas kendaraan.
Nabi Muhammad pernah membonceng sebagiansahabat beliau, seperti Mu’adz, Usamah, dan Al-Fadhl. Demikian pula beliau pernah membonceng ‘Abdullah bin Ja’far dan Al-Hasan atau Al-Husain secara bersamaan dan juga selain mereka.