Tiga Tingkatan Sabar Versi Gus Baha, Gembira Merupakan Tertinggi
Jaja Suhana
Rabu, 26 Januari 2022 - 11:05 WIB
Gus Baha. Foto: PWMU.CO.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia tidak lepas dari ujian dan masalah hidup. Namun ujian dan masalah yang datang tidak lepas dari batas kemampuan masing-masing manusia. Musibah datang untuk menguji manusia, apabila ia berhasil melalui ujian tersebut maka akan naik tingkat.
Ulama muda Nahdlatul Ulama, Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab dipanggil Gus Baha, mengatakan, ada tiga tingkatan atau maqam sabar menurut para ulama. Dimulai dari tingkat terendah sampai tertinggi, yakni bahagia saat tertimpa musibah dan ujian.
Tingkatan pertama orang sabar yakni tidak mengeluh saat tertimpa musibah. Saat ada masalah fokuslah pada solusi, karena dengan hanya mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah.
Baca Juga:Pentingnya Sanad Keilmuan, Tidak Boleh Asal-asalan dalam Berislam
"Ciri utama sabar itu meninggalkan mengeluh, ini maqamnya para tabiin," ujar Gus Baha, dikutip dari Instagram Santri Gayeng, dikutip Rabu (26/1/2022).
Tingkatan selanjutnya menurut Gus Baha adalah rida terhadap segala sesuatu yang sudah jadi ketetapan Allah. Dengan rida kepada ketetapan dari Allah, maka Allah juga akan rida kepada orang tersebut.
"Rida atas ujian dan musibah adalah maqam bagi orang zuhud, hamba yang meninggalkan kenikmatan dunia dan tidak berharap apa-apa kecuali keridaan Allah," ujarnya.
Ulama muda Nahdlatul Ulama, Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab dipanggil Gus Baha, mengatakan, ada tiga tingkatan atau maqam sabar menurut para ulama. Dimulai dari tingkat terendah sampai tertinggi, yakni bahagia saat tertimpa musibah dan ujian.
Tingkatan pertama orang sabar yakni tidak mengeluh saat tertimpa musibah. Saat ada masalah fokuslah pada solusi, karena dengan hanya mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah.
Baca Juga:Pentingnya Sanad Keilmuan, Tidak Boleh Asal-asalan dalam Berislam
"Ciri utama sabar itu meninggalkan mengeluh, ini maqamnya para tabiin," ujar Gus Baha, dikutip dari Instagram Santri Gayeng, dikutip Rabu (26/1/2022).
Tingkatan selanjutnya menurut Gus Baha adalah rida terhadap segala sesuatu yang sudah jadi ketetapan Allah. Dengan rida kepada ketetapan dari Allah, maka Allah juga akan rida kepada orang tersebut.
"Rida atas ujian dan musibah adalah maqam bagi orang zuhud, hamba yang meninggalkan kenikmatan dunia dan tidak berharap apa-apa kecuali keridaan Allah," ujarnya.