home global news

Tantangan Waktu Shalat di Negara-Negara Sekitar Kutub Utara

Kamis, 27 Januari 2022 - 14:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Umat Islam yang tinggal di negara-negara sekitar Kutub Utara memiliki tantangan tersendiri terkait ibadah shalat lima waktu. Di daerah tersebut, ada fenomena Soltis Utara atau Titik Balik Matahari Utara yang menyebabkan matahari tak pernah tenggelam di Arktik, Kutub Utara dan kawasan itu tak mengenal malam hari.

Lama waktu siang hari terpanjang yang dialami di negara-negara di belahan Bumi Utara berbeda, tergantung titik koordinat lintang di mana mereka berada. Makin ke utara mendekati kutub, maka siang hari akan lebih lama.

Bahkan di Arktik alias Kutub Utara, matahari tak pernah tenggelam pada momen Soltis Utara. Sebaliknya, enam bulan kemudian ketika matahari ada di Titik Balik Selatan, maka malam tak akan pernah datang ke Antartika, Kutub Selatan.

Fenomena itu terjadi pada 20,21, dan 22 Juni setiap tahunnya. Matahari memang bersinar paling lama di belahan Bumi Utara.

Lalu, bagaimana umat Islam yang tinggal di kawasan tersebut? Shalat maghrib dan isya dilaksanakan saat matahari terbenam. Namun, di lintang yang sangat tinggi, siang atau malam berlangsung selama 24 jam. Itu tentu menjadi tantangan untuk menentukan waktu shalat lima waktu. Di lintang yang lebih rendah, waktu salat akan terpengaruh.

Sejarah Islam di Kutub Utara

Islam masuk ke daerah Kutub Utara terjadi pada era Bani Abbasiyah. Pada 921 M, Ibn Fadlan, seorang utusan yang dikirim Khalifah Abbasiyah berangkat dari Baghdad menuju Volga Bulghars (terletak di dekat Kazan, Rusia).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
waktu shalat salat 5 waktu manajemen waktu islam di eropa
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya