Kisah ketika Rasulullah Kesiangan Shalat Subuh saat Safar
Fajar adhitya
Ahad, 25 Juli 2021 - 07:05 WIB
Ilustrasi perjalanan saat safar. (Foto: Istimewa).
Ummat Muslim memiliki kewajiban shalat lima waktu. Ada dua waktu yang dianggap berat oleh sebagian orang, yakni Isya dan Subuh, yaitu bertepatan dengan jam-jamnya beristirahat dan sedang nyenyaknya tidur. Tapi masyarakat Indonesia sebagian besar mampu menunaikan shalat Isya, bahkan beberapa bisa berjamaah di masjid. Bagaimana dengan shalat Subuh?
Tidak banyak ummat Muslim yang dapat shalat subuh di awal waktu, apalagi berjamaah di masjid. Alasannya karena lelah bekerja atau terlalu larut tidur. Meski beberapa orang memiliki alasan sudah menjadi kebiasaan. Apa hukumnya shalat subuh kesiangan?
Melansir laman HàlãQáh Syar'iyyah yang ditulis Ahmad Hasanuddin Umar, seorang sahabat yang bernama Imran bin Hushain bercerita: "Kami pernah dalam suatu perjalanan (sepulang dari perang khaibar) bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, kami berjalan di waktu malam hingga ketika sampai di akhir malam kami tidur, dan tidak ada tidur yang paling enak (nyenyak) bagi musafir melebihi yang kami alami. Hingga tidak ada yang membangunkan kami kecuali panasnya sinar matahari.
Dan orang yang pertama kali bangun adalah si fulan (ada riwayat yang menjelaskan Abu Bakar radhiyallahi anhu). Umar bin Khaththab adalah orang keempat saat bangun, Sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam bila tidur tidak ada yang membangunkannya hingga beliau bangun sendiri, karena kami tidak tahu apa yang terjadi pada beliau dalam tidurnya.
Ketika Umar bangun dan melihat apa yang terjadi di tengah banyak orang (yang kesiangan belum shalat subuh) dan Umar adalah seorang yang kuat dan keras, ia bertakbir dengan mengeraskan suaranya dan terus saja bertakbir dengan keras hingga Nabi shallallahu alaihi wasallam terbangun akibat kerasnya suara takbir Umar.
Tatkala beliau bangun, orang-orang mengadukan peristiwa yang mereka alami (bahwa mereka bangun kesiangan dan belum shalat subuh). Maka beliau bersabda: "Tidak masalah, atau tidak apa dan lanjutkanlah perjalanan." Maka beliau meneruskan perjalanan dan setelah beberapa jarak yang tidak jauh beliau berhenti lalu meminta segayung air untuk wudhu, beliau lalu berwudhu kemudian diseru (diadzani) untuk shalat (subuh). Maka beliau shalat subuh bersama orang banyak.
Setelah beliau selesai melaksanakan shalatnya, didapatinya ada seorang yang memisahkan diri tidak ikut shalat bersama orang banyak. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya: "Apa yang menghalangimu untuk shalat subuh bersama orang banyak?" Orang itu menjawab, "Aku sedang junub, sementara air tidak ada."
Tidak banyak ummat Muslim yang dapat shalat subuh di awal waktu, apalagi berjamaah di masjid. Alasannya karena lelah bekerja atau terlalu larut tidur. Meski beberapa orang memiliki alasan sudah menjadi kebiasaan. Apa hukumnya shalat subuh kesiangan?
Melansir laman HàlãQáh Syar'iyyah yang ditulis Ahmad Hasanuddin Umar, seorang sahabat yang bernama Imran bin Hushain bercerita: "Kami pernah dalam suatu perjalanan (sepulang dari perang khaibar) bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, kami berjalan di waktu malam hingga ketika sampai di akhir malam kami tidur, dan tidak ada tidur yang paling enak (nyenyak) bagi musafir melebihi yang kami alami. Hingga tidak ada yang membangunkan kami kecuali panasnya sinar matahari.
Dan orang yang pertama kali bangun adalah si fulan (ada riwayat yang menjelaskan Abu Bakar radhiyallahi anhu). Umar bin Khaththab adalah orang keempat saat bangun, Sedangkan Nabi shallallahu alaihi wasallam bila tidur tidak ada yang membangunkannya hingga beliau bangun sendiri, karena kami tidak tahu apa yang terjadi pada beliau dalam tidurnya.
Ketika Umar bangun dan melihat apa yang terjadi di tengah banyak orang (yang kesiangan belum shalat subuh) dan Umar adalah seorang yang kuat dan keras, ia bertakbir dengan mengeraskan suaranya dan terus saja bertakbir dengan keras hingga Nabi shallallahu alaihi wasallam terbangun akibat kerasnya suara takbir Umar.
Tatkala beliau bangun, orang-orang mengadukan peristiwa yang mereka alami (bahwa mereka bangun kesiangan dan belum shalat subuh). Maka beliau bersabda: "Tidak masalah, atau tidak apa dan lanjutkanlah perjalanan." Maka beliau meneruskan perjalanan dan setelah beberapa jarak yang tidak jauh beliau berhenti lalu meminta segayung air untuk wudhu, beliau lalu berwudhu kemudian diseru (diadzani) untuk shalat (subuh). Maka beliau shalat subuh bersama orang banyak.
Setelah beliau selesai melaksanakan shalatnya, didapatinya ada seorang yang memisahkan diri tidak ikut shalat bersama orang banyak. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya: "Apa yang menghalangimu untuk shalat subuh bersama orang banyak?" Orang itu menjawab, "Aku sedang junub, sementara air tidak ada."