Diyanet Turki: Kunjungi Ka'bah Lewat Metaverse Bukan Haji Sebenarnya
Fifiyanti Abdurahman
Sabtu, 19 Februari 2022 - 23:35 WIB
Jamaah haji yang mencoba mencium Hajar Aswad di Kabah, Mekah 2019. Foto: LANGIT7/iStock
Kepresidenan Urusan Agama Turki (Diyanet) mengatakan mengunjungi Ka'bah melalui metaverse bukan haji sebenarnya.
"Mengunjungi Ka'bah dapat dilakukan di metaverse, tetapi itu tidak akan dianggap sebagai "haji yang sebenarnya," kata Kepresidenan Urusan Agama Turki (Diyanet) setelah diskusi selama sebulan.
Diskusi dimulai ketika Arab Saudi membawa situs tersuci Islam ke dalam metaverse pada Desember 2021, lalu. Dengan memanfaatkan platform tersebut memungkinkan umat Islam untuk melihat Ka'bah secara virtual dari rumah.
Baca juga: Peneliti Bangun Masjidil Aqsha di Dunia Metaverse
Acara metaverse tersebut diberi tajuk "Virtual Black Stone Initiative" dimana pengguna bisa melihat Hajr Aswad yang ada di salah satu sudut Ka'bah secara virtual.
“Inisiatif ini memungkinkan umat Islam untuk melihar Hajr Aswad secara virtual sebelum ziarah ke Mekah,” kata pejabat Saudi dalam sebuah pernyataan saat mengumumkan inisiatif tersebut.
Namun, inisiatif tersebut menimbulkan kontroversi apakah "haji di metaverse" dapat dianggap sebagai ibadah yang nyata. Pertanyaan tersebut sempat dilontarkan umat Muslim di Turki pada Diyanet.
"Mengunjungi Ka'bah dapat dilakukan di metaverse, tetapi itu tidak akan dianggap sebagai "haji yang sebenarnya," kata Kepresidenan Urusan Agama Turki (Diyanet) setelah diskusi selama sebulan.
Diskusi dimulai ketika Arab Saudi membawa situs tersuci Islam ke dalam metaverse pada Desember 2021, lalu. Dengan memanfaatkan platform tersebut memungkinkan umat Islam untuk melihat Ka'bah secara virtual dari rumah.
Baca juga: Peneliti Bangun Masjidil Aqsha di Dunia Metaverse
Acara metaverse tersebut diberi tajuk "Virtual Black Stone Initiative" dimana pengguna bisa melihat Hajr Aswad yang ada di salah satu sudut Ka'bah secara virtual.
“Inisiatif ini memungkinkan umat Islam untuk melihar Hajr Aswad secara virtual sebelum ziarah ke Mekah,” kata pejabat Saudi dalam sebuah pernyataan saat mengumumkan inisiatif tersebut.
Namun, inisiatif tersebut menimbulkan kontroversi apakah "haji di metaverse" dapat dianggap sebagai ibadah yang nyata. Pertanyaan tersebut sempat dilontarkan umat Muslim di Turki pada Diyanet.