Batasi Penggunaan Gawai bagi Anak dengan Aktivitas Bersama
Muhajirin
Ahad, 25 Juli 2021 - 14:08 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/ iStock
Banyak aktivitas dan permainan yang bisa dilakukan bersama si buah hati. Kalau harus bermain gawai (gadget) bersama, itu pun jadi pilihan terakhir agar anak-anak tidak kecanduan.
Psikolog anak lulusan Universitas Indonesia Fathya Artha Utami, M.Sc., M.Psi, mengatakan orang tua bisa membatasi penggunaan gawai anak dengan membuat rutinitas atau jadwal beraktivitas dan bermain bersama.
"Di masa pandemi, penggunaan internet dan gadget meningkat drastis. Misalnya ketika orang tua sedang meeting, anak akhirnya juga diberi gadget. Tapi, ini bisa disiasati, mulai dari jadwal kapan dia diberi gadget, kapan dia harus bermain bersama mama dan papa, itu harus diatur," kata Fathya dalam seminar web beberapa waktu lalu.
Orang tua tidak perlu terpaku untuk mengajak anak beraktivitas yang sifatnya fisik, terlebih, orang tua juga pasti lelah karena energinya juga sudah terkuras ketika bekerja walaupun dari rumah.
"Aktivitas lain tidak melulu aktivitas fisik saja. Ajak anak untuk bermain yang orang tua juga ikut excited. Penggunaan gadget juga bisa sehat ketika bersama dengan (pendampingan) orang tuanya," kata dia.
"Kita juga bisa siasati dengan misalnya me-print karakter kartun yang ia lihat di gadget, lalu menggambar dan menempel bersama. Ini tentu untuk membuat anak kurang main gadget, tapi ada strategi kapan main dan lepas gadget. Distraksinya dijauhkan dan dihindari," imbuhnya.
Namun, bagaimana jika anak menolak lalu menjadi marah? Saat disinggung mengenai hal itu, psikolog yang juga menempuh pendidikan di University of Amsterdam itu menganjurkan para orang tua untuk tidak memberikan "hukuman" tertentu ketika si kecil bandel.
Psikolog anak lulusan Universitas Indonesia Fathya Artha Utami, M.Sc., M.Psi, mengatakan orang tua bisa membatasi penggunaan gawai anak dengan membuat rutinitas atau jadwal beraktivitas dan bermain bersama.
"Di masa pandemi, penggunaan internet dan gadget meningkat drastis. Misalnya ketika orang tua sedang meeting, anak akhirnya juga diberi gadget. Tapi, ini bisa disiasati, mulai dari jadwal kapan dia diberi gadget, kapan dia harus bermain bersama mama dan papa, itu harus diatur," kata Fathya dalam seminar web beberapa waktu lalu.
Orang tua tidak perlu terpaku untuk mengajak anak beraktivitas yang sifatnya fisik, terlebih, orang tua juga pasti lelah karena energinya juga sudah terkuras ketika bekerja walaupun dari rumah.
"Aktivitas lain tidak melulu aktivitas fisik saja. Ajak anak untuk bermain yang orang tua juga ikut excited. Penggunaan gadget juga bisa sehat ketika bersama dengan (pendampingan) orang tuanya," kata dia.
"Kita juga bisa siasati dengan misalnya me-print karakter kartun yang ia lihat di gadget, lalu menggambar dan menempel bersama. Ini tentu untuk membuat anak kurang main gadget, tapi ada strategi kapan main dan lepas gadget. Distraksinya dijauhkan dan dihindari," imbuhnya.
Namun, bagaimana jika anak menolak lalu menjadi marah? Saat disinggung mengenai hal itu, psikolog yang juga menempuh pendidikan di University of Amsterdam itu menganjurkan para orang tua untuk tidak memberikan "hukuman" tertentu ketika si kecil bandel.