Hakikat Rindu Menurut Imam Al Ghazali
Fajar adhitya
Jum'at, 11 Februari 2022 - 15:45 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7/iStock.
Rindu adalah perasaan kuat dalam hati seseorang untuk bertemu. Menurut Imam Al Ghazali, rasa rindu timbul dari cinta yang mendalam terhadap sesorang atau sesuatu.
Rasa rindu hadir saat objek yang dicintai tidak ada di hadapannya. Adapun yang sudah ada, terlihat dengan mata kepalanya, maka ia tidak akan dirindukan.
Al Ghazali menyatakan bahwa rindu tidak dapat dipisahkan dengan cinta. Rasa cinta akan mendorong munculnya rasa ingin tahu yang mendalam tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan objek yang dicintainya.
Baca Juga:Mimbar Masjid: Podium Ceramah Hingga Simbol Otoritas Negara
"Ketahuilah, orang yang memungkiri hakikat cinta, maka tidak boleh tidak ia akan memungkiri pada hakikat rasa rindu. Karena, tidak tergambar rasa rindu kecuali kepada apa yang dicintai," kata Imam Al Ghazali.
Kerinduan menyaratkan keberjarakan dan ketidaksempurnaan, seperti ada yang hilang saat objek yang dicintai jauh dari jangkauannya. Misalnya, siapa saja yang memandang kekasihnya, terus menerus dapat melihat dirinya niscaya tidaklah bisa tergambar rasa rindu padanya.
Pun demikian, kerinduan itu tergantung dengan apa yang diketahui dari satu segi, dan tidak diketahui dari segi yang lain. Seorang suami yang sedang merantau jauh dari istrinya dalam waktu yang lama ia akan rindu untuk berjumpa dan melihat bagaimana rupa Sang Kekasih saat bertemu kembali.
Rasa rindu hadir saat objek yang dicintai tidak ada di hadapannya. Adapun yang sudah ada, terlihat dengan mata kepalanya, maka ia tidak akan dirindukan.
Al Ghazali menyatakan bahwa rindu tidak dapat dipisahkan dengan cinta. Rasa cinta akan mendorong munculnya rasa ingin tahu yang mendalam tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan objek yang dicintainya.
Baca Juga:Mimbar Masjid: Podium Ceramah Hingga Simbol Otoritas Negara
"Ketahuilah, orang yang memungkiri hakikat cinta, maka tidak boleh tidak ia akan memungkiri pada hakikat rasa rindu. Karena, tidak tergambar rasa rindu kecuali kepada apa yang dicintai," kata Imam Al Ghazali.
Kerinduan menyaratkan keberjarakan dan ketidaksempurnaan, seperti ada yang hilang saat objek yang dicintai jauh dari jangkauannya. Misalnya, siapa saja yang memandang kekasihnya, terus menerus dapat melihat dirinya niscaya tidaklah bisa tergambar rasa rindu padanya.
Pun demikian, kerinduan itu tergantung dengan apa yang diketahui dari satu segi, dan tidak diketahui dari segi yang lain. Seorang suami yang sedang merantau jauh dari istrinya dalam waktu yang lama ia akan rindu untuk berjumpa dan melihat bagaimana rupa Sang Kekasih saat bertemu kembali.