LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Riya adalah
penyakit hati dalam Islam, yakni beramal ibadah dengan niat untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari manusia, bukan semata-mata karena Allah.
Penyakit riya memiliki daya rusak yang luar biasa pada amal yang dikerjakan. Karenanya pada ulama mengingatkan agar
umat Islam menghindari riya saat beribadah.
Baca juga: Imam Al-Ghazali: Mistikus yang Mendahului PsikologiUlama, teolog, dan filsuf terkemuka
Imam Al-Ghazali, dalam kitab Minhajul Abidin, menjelaskan empat pengingat yang bisa jadi cara untuk menghilangkan riya saat beribadah. Berikut kiatnya seperti dikutip dari laman Kemenag, Rabu (14/1/2026).
1. Sadar kekurangan diriManusia adalah makhluk lemah yang penuh kekurangan. Karena itu, hendaknya setiap individu menyadari dirinya memiliki kekurangan.
Apabila seorang muslim menyadari kekurangan dalam dirinya, maka ia tidak akan berharap pada pujian apalagi hanya dari manusia.
Imam Al-Ghazali kemudian mengutip firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 12:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
Artinya:
“Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”Imam Al-Ghazali menjelaskan, ayat tersebut menjadi peringatan sekaligus teguran dari Allah kepada hamba-Nya.
Seakan-akan Allah menegaskan bahwa penciptaan langit, bumi, dan segala isinya sudah cukup menjadi bukti agar manusia menyadari betapa besarnya kekuasaan-Nya.
Meski demikian, kenyataannya masih saja ada manusia yang mengarahkan amalnya bukan kepada Allah, melainkan kepada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kuasa apa pun.
Baca juga: Imam al-Ghazali dan Kritik atas Haji yang Berlebihan2. Mengingat Kerugian AmalImam Al-Ghazali mengingatkan bahwa balasan amal atau pahala dari Allah itu sangat besar. Namun semua balasan itu tidak akan diberikan ketika amalnya sudah terinfeksi penyakit riya.
Hal ini tentu saja akan menjadi kerugian besar karena amalnya tidak diterima oleh Allah.
Al-Ghazali mengumpamakan, orang yang beribadah namun tercampur riya itu seperti seseorang yang punya perhiasan mewah dan akan dibeli oleh penguasa dengan harga milyaran rupiah. Namun pemilik perhiasan itu malah memilih menjualnya dengan harga seribu rupiah kepada orang lain. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.
Imam Al-Ghazali pun menjelaskan:
فاذا أنت أخلصت النية وجردت الهمة للآخرة حصلت لك الآخرة والدنيا جميعا
Artinya:
“Apabila engkau mengikhlaskan niat dan mengarahkan tekadmu untuk akhirat, maka engkau akan memperoleh akhirat sekaligus dunia.” (Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin [Indonesia, Pustaka Islamiyah: t.t], h. 76)
Sebaliknya, jika beramal hanya mengharapkan dunia maka balasan untuk akhirat tidak akan didapatkan, bahkan bisa jadi balasan untuk dunia pun tidak akan sesuai harapan.
Baca juga: Imam Al-Ghazali Peringatkan tentang Siksaan Jiwa yang Dimulai di DuniaKalau pun didapatkan, bisa jadi hal itu akan segera hilang. Dalam kondisi seperti ini tentu akan menjadi orang yang rugi karena kehilangan dunia sekaligus akhirat.
3. Tidak Disukai Orang LainImam Al-Ghazali mengingatkan, ketika seseorang beribadah namun malah mengharapkan pujian dari orang lain, bisa jadi orang tersebut tidak suka dengan ibadah yang sedang dilakukan.
Ketika orang tersebut mengetahui bahwa amal itu ditujukan kepadanya, mungkin saja dia akan memandang hina atau bahkan merasa jijik.
Oleh karena itu, saat seorang hamba melakukan amal ibadah hendaknya selalu menjaga hati agar tetap fokus karena Allah dan tidak menjadikan manusia sebagai tujuannya.
4. Memprioritaskan Ridha AllahBagi seorang muslim, rida Allah harus dijadikan sebagai prioritas utama daripada rida manusia. Dianalogikan Imam Al-Ghazali, rida Allah seperti ridanya seorang raja sedangkan rida manusia seperti ridanya budak yang hina.
Ketika seseorang riya dalam beribadah, seolah dia sedang mencari rida budak padahal rida seorang raja sedang menanti.
Baca juga: Imam Al-Ghazali menyampaikan empat pengingat di atas sebagai hikmah agar setiap Muslim dapat terhindar dari penyakit riya, dengan menyadari kelemahan diri, mengingat kerugian amal, merasa orang lain tidak senang jika ada amal yang ditujukan kepadanya, dan mengutamakan rida Allah daripada rida manusia.
(est)