LANGIT7.ID-“Bagi orang sakit, air manis terasa pahit di mulut.” Kutipan penyair al-Mutanabbi itu dijadikan moto oleh Imam al-Ghazali dalam Book of Knowledge. Ungkapan sederhana yang ternyata menyimpan lapisan makna: persepsi manusia dibentuk oleh kondisi batin, bukan semata oleh realitas objektif. Delapan abad sebelum Ivan Pavlov memperkenalkan eksperimen anjing berliurnya, Al-Ghazali sudah mengurai fenomena yang kini kita kenal sebagai pengondisian.
Bagi kaum Sufi, apa yang ditulis Al-Ghazali bukan sekadar renungan mistik, melainkan upaya menyingkap mekanisme tersembunyi yang membentuk pikiran manusia. Bagi pembaca modern, ia terdengar seperti psikolog eksperimental yang lahir terlalu cepat.
Dalam
The Way of the Sufi (Idries Shah, Risalah Gusti, 1999), Al-Ghazali digambarkan gemar memakai perumpamaan “modern” untuk membongkar cara kerja pikiran. Ia menilai pencampuradukan opini dan pengetahuan sebagai “wabah intelektual”. Orang terpelajar, katanya, justru kerap terjebak dalam fanatisme. Pendidikan bisa menjadi jembatan menuju kearifan, tetapi bisa juga melahirkan obsesi sempit jika dipakai untuk mengindoktrinasi.
Kritiknya terasa relevan. Di masyarakat totalitarian, indoktrinasi dipelihara dan disakralkan. Di masyarakat lain, ia disembunyikan atau bahkan dianggap tabu. “Manusia menentang sesuatu karena mereka tidak mengetahuinya,” tulisnya.
Ironisnya, filsuf Kristen abad pertengahan yang banyak mengadopsi pemikirannya memilih menyingkirkan bagian yang justru menguliti praktik indoktrinasi mereka sendiri.
Baca juga: Imam al-Ghazali dan Kritik atas Haji yang Berlebihan Antara Mistisisme dan SainsKalangan akademis Barat menghargai Al-Ghazali sebagai pemikir besar, tapi sering menempatkannya di luar lingkaran ilmuwan karena ia menolak metode mekanis sebagai sumber utama pengetahuan. Ia sampai pada kebenaran melalui pendidikan sufistik: pengalaman batin langsung, bukan logika formal.
Idries Shah menulis: “Terimalah penemuan seseorang jika engkau tidak dapat menyangkalnya, sebaliknya abaikan metodenya jika tidak sesuai dengan keyakinanmu.” Dalam hal ini, metode Al-Ghazali dianggap “mistik”, sementara hasilnya terbukti mendahului teori-teori psikologi modern.
Tidak heran bila buku-bukunya sempat dibakar kaum fanatik dari Spanyol hingga Suriah. Kini, meski tak lagi dilempar ke api, pengaruhnya memudar di luar lingkaran kecil kaum Sufi.
Guru sebagai Dokter JiwaBagi Al-Ghazali, perjalanan mencari kebenaran ibarat pasien yang harus percaya pada resep dokter. Murid tidak selalu tahu apa yang ia butuhkan, tetapi guru berpengalaman mengerti dosis dan waktunya. Pendidikan sufistik, dengan cara-cara yang kadang mengejutkan, justru menyiapkan jiwa untuk transisi—bahkan menuju alam setelah mati.
Ia menekankan bahwa tujuan manusia bukan sekadar lebih kuat daripada unta atau lebih berani dari singa. “Manusia diciptakan untuk belajar,” tulisnya. Pengetahuan, dalam pandangan Sufi, adalah satu-satunya harta yang tetap utuh bahkan “saat kapal pecah.”
Baca juga: Imam al-Ghazali dan Kritik Atas Kesalehan yang Tertipu Kisah-kisah yang ditinggalkan Al-Ghazali terdengar seperti eksperimen sosial avant-garde. Seorang dokter memberi tahu pasien perempuan bahwa ia akan mati dalam 40 hari. Ketakutan membuatnya berhenti makan berlebihan, tubuhnya pulih, dan ia menjadi subur. Sebuah terapi kejut yang hari ini mungkin kita kenal sebagai modifikasi perilaku.
Atau cerita murid yang ingin ikut tarian Sufi. Sang guru memintanya berpuasa tiga hari lalu memasak hidangan lezat. Jika setelah itu ia masih lebih memilih menari ketimbang makan, barulah ia pantas ikut. Uji dedikasi yang sama kerasnya dengan tes psikologis modern.
Tiga Tingkat PencarianAl-Ghazali mengutip kisah Yesus bertemu tiga kelompok manusia: yang takut neraka, yang rindu surga, dan yang tercerahkan oleh “Realitas”. Hanya kelompok terakhir yang ia sebut benar-benar “mencapai”. Di sini ia mengajarkan perbedaan antara motivasi eksternal dan kesadaran sejati—isu yang sampai kini masih diperdebatkan dalam psikologi motivasi.
Tempo dulu, Al-Ghazali sudah memperingatkan: mencampur opini dengan pengetahuan hanya akan melahirkan kebodohan kolektif. Tugas kaum terpelajar, katanya, adalah menjelaskan perbedaan keduanya sebisa mungkin. Tanpa itu, masyarakat akan larut dalam wabah fanatisme.
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali: Tirai yang Menyelubungi Allah Hari ini, ketika media sosial memproduksi opini massal tanpa filter, pesannya terasa seperti alarm dari abad ke-12 yang terus berdengung.
Jejak yang TersisaPemikir Aljazair, Ibnu Badis, pernah mengingatkan bahwa sikap kaku masyarakat kerap menutup keluasan teks agama. Hal yang sama terjadi pada karya Al-Ghazali. Disalahpahami sebagai sekadar mistikus, padahal ia menawarkan metode berpikir kritis yang mendahului zamannya.
Idries Shah menulis, “Jika Imam al-Ghazali tidak menghasilkan karya yang bermanfaat, ia hanya akan dihargai sebagai mistikus. Tetapi buktinya ia telah memberi kontribusi sosial dan edukatif.”
Kini, di tengah polarisasi wacana publik, ajarannya kembali menemukan relevansinya: jangan terkecoh pada obsesi, kenali mekanisme indoktrinasi, dan belajarlah menempatkan pengetahuan di atas opini.
Baca juga: Imam Al-Ghazali: Melihat Wajah-Nya, Kebahagiaan yang Terlupakan(mif)