LANGIT7.ID, Jakarta - Rindu adalah perasaan kuat dalam hati seseorang untuk bertemu. Menurut Imam Al Ghazali, rasa rindu timbul dari cinta yang mendalam terhadap sesorang atau sesuatu.
Rasa rindu hadir saat objek yang dicintai tidak ada di hadapannya. Adapun yang sudah ada, terlihat dengan mata kepalanya, maka ia tidak akan dirindukan.
Al Ghazali menyatakan bahwa rindu tidak dapat dipisahkan dengan cinta. Rasa cinta akan mendorong munculnya rasa ingin tahu yang mendalam tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan objek yang dicintainya.
Baca Juga: Mimbar Masjid: Podium Ceramah Hingga Simbol Otoritas Negara"Ketahuilah, orang yang memungkiri hakikat cinta, maka tidak boleh tidak ia akan memungkiri pada hakikat rasa rindu. Karena, tidak tergambar rasa rindu kecuali kepada apa yang dicintai," kata Imam Al Ghazali.
Kerinduan menyaratkan keberjarakan dan ketidaksempurnaan, seperti ada yang hilang saat objek yang dicintai jauh dari jangkauannya. Misalnya, siapa saja yang memandang kekasihnya, terus menerus dapat melihat dirinya niscaya tidaklah bisa tergambar rasa rindu padanya.
Pun demikian, kerinduan itu tergantung dengan apa yang diketahui dari satu segi, dan tidak diketahui dari segi yang lain. Seorang suami yang sedang merantau jauh dari istrinya dalam waktu yang lama ia akan rindu untuk berjumpa dan melihat bagaimana rupa Sang Kekasih saat bertemu kembali.
Rasa rindu juga memicu khayalan yang sempurna terhadap objek yang dicintainya. Seperti orang yang melihat dalam kegelapan, pikirannya menerawang benda-benda apa saja yang ada di hadapannya.
Baca Juga: Tausiyah Ahad Pagi: Sabar Sebagai Bentuk Kematangan SpiritualGelap membuat pandangan terhijab untuk mengetahui hakikat beda-benda di sekitar dan ia rindu untuk dapat melihatnya. Sampai kemudian lampu menyala, cahayanya menyingkap kegelapan maka sempurnalah penglihatannya dan tertunai kerinduannya
Dalam Islam, rindu yang paling mulia adalah rindu akan perjumpaan dengan Allah subhanahu wata'ala. Allah memang menginformasikan dirinya lewat wahyu yang disampaikan kepada Nabi dan Rasul.
Namun, sifat-sifat dan penggambaran Allah yang Ia beritahukan hanyalah sebagaian dari hakikat ilahiah yang sesungguhnya. Sudah demikian pun pengenalan hamba terhadap dzat Allah sebatas yang diwahyukannya memiliki kadar dan kualitas yang berbeda-beda.
Baca Juga: Bingung Pilih Ilmu Agama atau Ilmu Umum? Ini SolusinyaBagi orang-orang saleh, pengetahuan yang terbatas tentang-Nya membuat rasa rindu untuk berjumpa dengan-Nya itu semakin kuat. Kerinduan ini akan berakhir di akhirat di mana Allah di mana seorang hamba dapat melihat, bertemu, dan menyaksikan Allah.
Al Ghazali mengisahkan Ibrahim bin Adham, seorang waliyullah yang amat merindukan perjumpaan dengan Allah. Pada suatu hari, kisah Al Ghazali, Ibrahim bin Adham berdoa, "Wahai Allah, jika saja Engkau memberi kepada seseorang dari orang-orang yang mencintaimu apa yang bisa menentramkan hatinya sebelum ia menjumpai-Mu, maka berilah kepadaku yang demikian. Sesungguhnya kegelisahan telah menyulitkanku."
(zhd)