LANGIT7.ID, Jakarta - Imam Masjid Istiqlal KH Hasanuddin Sinaga dalam salah satu ceramahnya di Masjid Istiqlal menyinggung pentingnya seorang muslim memiliki rasa sabar sebagai bentuk kematangan spiritual. Menurut dia, fenomena umat Islam dewasa ini terjadi kekeringan spiritual dalam beragama.
Padahal,dalam menyikapi persoalan krisis spiritual yang dialami umat beragama, jalan terbaik adalah menengok kembali nilai-nilai agama. Nilai-nilai agama yang diyakini mampu mengatasi permasalahan krisis itu adalah nilai agama yang berdimensi spiritual.
Ada banyak dimensi agama, yang dalam Islam terdapat dimensi syariat, hakikat, dan tarekat. Atau dalam konteks lain, agama memiliki dimensi lahir dan dimensi batin. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, aspek spiritual diwakili oleh term al-ruh (ruh), al-qalb (hati), al-nafs (jiwa), dan al-‘aql (akal) yang semuanya merupakan sinonim.
"Tujuan hidup manusia dalam perspektif spiritual adalah menggapai hidup yang bermakna dan mampu menenteramkan batin," katanya.
Manusia membutuhkan sesuatu yang akan menyejukkan hatinya, menenteramkan jiwanya serta terhindar dari keresahan dan kecemasan. Spiritualitas bertujuan sebagai terapi bagi penyakit jiwa. Oleh karena itu, spiritual keagamaan merupakan kebutuhan dasar manusia menuju kebenaran yang hakiki.
Selama perjalanan hidup di dunia yang hanya sebentar, manusia mengalami berbagai peristiwa, suka duka, sakit senang, sengsara bahagia, dan seterusnya. Kejadian yang dialami silih berganti.
"Begitulah Tuhan mengukir manusia, apakah semua ini dapat dilalui dengan baik sehingga mendatangkan kebaikan ataukah akan mendatangkan kejahatan dan dosa," paparnya.
Disinilah maqam kesabaran memiliki fungsi yang sangat vital dan merupakan tangga menuju kematangan spiritual seorang hamba. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ - ١٥٥
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al Baqarah ayat 155).
Kiai Hasanuddin menerangkan, sabar adalah luas hati, tidak mudah marah, orang yang sabar adalah orang yang bersikap luas hati, tabah, tenang dalam menghadapi masalah. Hakikat sabar menurut Imam Al-Ghazali adalah tahan menderita dari gangguan dan tahan menderita dari ketidak senangan orang.
Sabar adalah kunci dari kesulitan, barang siapa bersabar menghadapinya dia akan berhasil mengatasi berbagai masalah dalam kesulitan itu. Kesabaran datang dari kesadaran yang mendalam akan keberadaan Allah sebagai Rabb yang menciptakan, memiliki, dan mengatur setiap keadaan.
"Kesadaran inilah yang menenangkan batin seorang hamba dalam menjalani seluruh fase kehidupan, apapun bentuknya dan bagaimanapun efek batinnya," kata dosen Ushuluddin UIN Jakarta ini.
(zhd)