Waspadai 5 Virus dalam Sistem Pendidikan, No 4 Karena Krisis Akhlak!
Muhajirin
Senin, 26 Juli 2021 - 10:07 WIB
ilustrasi kenakalan remaja (foto: langit7.id/istock)
Pandemi yang membawa virus Covid-19 mau tidak mau memberikan banyak pengaruh pada pendidikan di Indonesia. Namun ternyata, bukan hanya virus Covid-19 yang berbahaya bagi pendidikan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, memaparkan ada lima virus pendidikan Indonesia. Lima virus itu pelan-pelan mengikis identitas nasional para pelajar Indonesia dari jati diri bangsa.
“Saya tidak akan bilang dosa. Kalau ada yang bilang dosa pendidikan Indonesia itu nanti terlalu sakral. Saya menyebutnya virus saja,” kata Haedar saat memberikan keynote speech dalam pembukaan forum webinar nasional guru Muhammadiyah, Sabtu (24/7/2021). Kelima virus tersebut yaitu:
1. Virus agnostik atau agnostisisme
Virus merupakan bentuk laten dari cara pandang dan kebijakan yang berusaha menjauhkan siswa dari nilai-nilai ketuhanan dan agama. Dua nilai ini dinegasikan dengan ilmu pengetahuan karena dipandang sebagai sumber masalah. Padahal, kata Haedar, hal itu hanya dimunculkan oleh sejumlah kecil oknum-oknum umat beragama saja.
“Ini semacam alam pikiran sekuler dimana ada praktek-praktek terorisme, orang sempit beragama, lalu disebutkan bahwa agama itu adalah sumber masalah. Nah, di dunia pendidikan modern itu sudah mulai masuk,” ucap dia.
2. Virus 'ekstrimisme dan radikalisme apa saja'
“Saya tidak akan bilang dosa. Kalau ada yang bilang dosa pendidikan Indonesia itu nanti terlalu sakral. Saya menyebutnya virus saja,” kata Haedar saat memberikan keynote speech dalam pembukaan forum webinar nasional guru Muhammadiyah, Sabtu (24/7/2021). Kelima virus tersebut yaitu:
1. Virus agnostik atau agnostisisme
Virus merupakan bentuk laten dari cara pandang dan kebijakan yang berusaha menjauhkan siswa dari nilai-nilai ketuhanan dan agama. Dua nilai ini dinegasikan dengan ilmu pengetahuan karena dipandang sebagai sumber masalah. Padahal, kata Haedar, hal itu hanya dimunculkan oleh sejumlah kecil oknum-oknum umat beragama saja.
“Ini semacam alam pikiran sekuler dimana ada praktek-praktek terorisme, orang sempit beragama, lalu disebutkan bahwa agama itu adalah sumber masalah. Nah, di dunia pendidikan modern itu sudah mulai masuk,” ucap dia.
2. Virus 'ekstrimisme dan radikalisme apa saja'