Jika Ada Kekerasan di Suatu Pondok, Haruskah Anak Pindah Pesantren?
Muhajirin
Kamis, 24 Februari 2022 - 13:59 WIB
Ilustrasi (foto: istimewa)
Lembaga pendidikan pondok pesantren tak lepas dari masalah, seperti kekerasan. Kerap terjadi kekerasan di dalam pesantren yang membuat orang tua berpikir untuk memindahkan anaknya dari pesantren tersebut.
Tapi, bagaimana seharusnya orang tua atau wali santri bertindak jika mendapati kesalahan di dalam pondok pesantren?
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan, orang tua atau wali santri tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan. Ada rambu-rambu yang mesti dilewati terlebih dahulu.
Pertama, saat hendak memondokkan anak, orang tua harus terlebih dahulu menyurvei pondok pesantren yang menjadi tujuan. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan yakni perkara akidah, akhlak, dan kedisiplinan.
"Soal akidah, kita punya akidah Asy'ariyah. Itu harga mati. Kedua, akhlak baik ada di situ. Ada sebagian pondok yang tidak ada budaya akhlak yang baik, meski akidah benar. Kemudian, tidak ketat, kurang disiplin. Kalau sudah tiga ini terpenuhi, (maka) aman anak di pondok," kata Buya Yahya melalui kanal Al-Bahjah TV, dikutip Kamis (23/2/2022).
Kedua, orang tua tidak boleh egois. Salah satu keegoisan orang tua adalah memaksakan anak pintar di pondok pesantren. Sehingga, ia tak bisa menerima kekurangan suatu pondok pesantren. Itu menyebabkan, orang tua sudah mengeluarkan anak dari pesantren tertentu.
Menurut Buya Yahya, orang tua harus merasa memiliki pondok pesantren tempat sang anak belajar. Memiliki artinya tidak tinggal diam jika menemukan kejanggalan. 'Bicara' ini pun harus dengan adab. Misal, tidak boleh menceritakan kejelekan pondok pesantren ke pihak ketiga.
Tapi, bagaimana seharusnya orang tua atau wali santri bertindak jika mendapati kesalahan di dalam pondok pesantren?
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan, orang tua atau wali santri tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan. Ada rambu-rambu yang mesti dilewati terlebih dahulu.
Pertama, saat hendak memondokkan anak, orang tua harus terlebih dahulu menyurvei pondok pesantren yang menjadi tujuan. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan yakni perkara akidah, akhlak, dan kedisiplinan.
"Soal akidah, kita punya akidah Asy'ariyah. Itu harga mati. Kedua, akhlak baik ada di situ. Ada sebagian pondok yang tidak ada budaya akhlak yang baik, meski akidah benar. Kemudian, tidak ketat, kurang disiplin. Kalau sudah tiga ini terpenuhi, (maka) aman anak di pondok," kata Buya Yahya melalui kanal Al-Bahjah TV, dikutip Kamis (23/2/2022).
Kedua, orang tua tidak boleh egois. Salah satu keegoisan orang tua adalah memaksakan anak pintar di pondok pesantren. Sehingga, ia tak bisa menerima kekurangan suatu pondok pesantren. Itu menyebabkan, orang tua sudah mengeluarkan anak dari pesantren tertentu.
Menurut Buya Yahya, orang tua harus merasa memiliki pondok pesantren tempat sang anak belajar. Memiliki artinya tidak tinggal diam jika menemukan kejanggalan. 'Bicara' ini pun harus dengan adab. Misal, tidak boleh menceritakan kejelekan pondok pesantren ke pihak ketiga.