Hikmah Rahmani: Mi'raj-kan Dirimu
A rahman habsyi
Senin, 28 Februari 2022 - 22:51 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡرُ
Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra': 1)
Isra Mi'raj merupakan salah satu peristiwa bersejarah di kalangan umat Islam. Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam di dunia mengenang peristiwa yang maha dahsyat tersebut. Sang Khaliq memperjalankan si hamba pilihannya (Muhammad SAW) dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha.
Dalam memperingati Isra Mi'raj, banyak hikmah yang dapat umat Islam petik. Pertama marilah redaksi Ilahiah mengenai perjalanan tersebut yang dimulai dengan kata "Subhana" (Maha Suci Allah). Setiap ayat yang diawali dengan kata "subhana" mengandung pesan akan sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh akal, tapi harus dipahami dengan keyakinan.
Begitu istimewanya kejadian ini hingga Allah memuji diri-Nya sendiri dengan ucapan "Subhana". Barangkali inilah salah satu bukti bahwa Allah adalah Maha dari segala Maha. Maha tanpa batasan ruang, waktu, bahkan massa.
Kedua, perjalanan Isra mungkin masih bisa dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mi’raj sama sekali di luar kemampuan otak pikiran manusia.
Perjalanan Mi’raj ini masih diperdebatkan banyak ulama, apakah dengan fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas ulama Sunni memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratul Muntaha ialah Nabi Muhammad SAW secara utuh, lahir dan batin.
Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra': 1)
Isra Mi'raj merupakan salah satu peristiwa bersejarah di kalangan umat Islam. Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam di dunia mengenang peristiwa yang maha dahsyat tersebut. Sang Khaliq memperjalankan si hamba pilihannya (Muhammad SAW) dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha.
Dalam memperingati Isra Mi'raj, banyak hikmah yang dapat umat Islam petik. Pertama marilah redaksi Ilahiah mengenai perjalanan tersebut yang dimulai dengan kata "Subhana" (Maha Suci Allah). Setiap ayat yang diawali dengan kata "subhana" mengandung pesan akan sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh akal, tapi harus dipahami dengan keyakinan.
Begitu istimewanya kejadian ini hingga Allah memuji diri-Nya sendiri dengan ucapan "Subhana". Barangkali inilah salah satu bukti bahwa Allah adalah Maha dari segala Maha. Maha tanpa batasan ruang, waktu, bahkan massa.
Kedua, perjalanan Isra mungkin masih bisa dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mi’raj sama sekali di luar kemampuan otak pikiran manusia.
Perjalanan Mi’raj ini masih diperdebatkan banyak ulama, apakah dengan fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas ulama Sunni memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratul Muntaha ialah Nabi Muhammad SAW secara utuh, lahir dan batin.