CIIA Kritik Kinerja BNPT Terkait Daftar 180 Penceramah Radikal
Fajar adhitya
Kamis, 10 Maret 2022 - 22:00 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
Direktur Community of Ideological Islamict Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menyindir kinerja Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam menangani radikalisme. Kritik berbalut satir disampaikan seiring munculnya daftar 180 penceramah radikal.
Pemerintah telah membantah merilis daftar 180 penceramah yang dinilai radikal dan intoleran seperti Ustaz Abdul Somad, Felix Siaw hingga Adi Hidayat. Namun, beredarnya daftar tersebut di media sosial telah memicu kegaduhan.
Harist mengatakan, narasi bermuatan hoaks membuat umat Islam saling mencurigai, su'udzan, dan nyata mendisharmonisasi kehidupan sosial dan keagamaan. Sudah sepatutnya, kata Harits, kepolisian secara aktif menelisik siapa sumber informasi hoaks tersebut.
Baca Juga:Masjid Agung Paris: Simbol Islam di Prancis, Ramah pada Nonmuslim
“Ini fitnah terhadap banyak anak bangsa, tentu perilaku fitnah memfitnah bukan nilai budaya adiluhung dari bangsa Indonsia,” kata pengamat terorisme ini dalam pernyataan media yang diterima Langit7.id, Kamis (10/3/2022).
Pada sisi lain Harits menyayangkan sikap BNPT yang dinilai ambigu terkait narasi radikalisme pendakwah. BNPT secara terbuka tidak mengakui sebagai sumber informasi, tapi secara implisit justru mendorong publik untuk melakukan filtering terhadap para da’i dengan parameter yang disampaikan oleh BNPT.
“Fenomena seperti ini akan dinilai oleh publik semacam permainan opini dan propaganda dengan posisi BNPT sebagai konduktor atau pengaransemen baik secara terbuka maupun tertutup,” jelas Harits.
Pemerintah telah membantah merilis daftar 180 penceramah yang dinilai radikal dan intoleran seperti Ustaz Abdul Somad, Felix Siaw hingga Adi Hidayat. Namun, beredarnya daftar tersebut di media sosial telah memicu kegaduhan.
Harist mengatakan, narasi bermuatan hoaks membuat umat Islam saling mencurigai, su'udzan, dan nyata mendisharmonisasi kehidupan sosial dan keagamaan. Sudah sepatutnya, kata Harits, kepolisian secara aktif menelisik siapa sumber informasi hoaks tersebut.
Baca Juga:Masjid Agung Paris: Simbol Islam di Prancis, Ramah pada Nonmuslim
“Ini fitnah terhadap banyak anak bangsa, tentu perilaku fitnah memfitnah bukan nilai budaya adiluhung dari bangsa Indonsia,” kata pengamat terorisme ini dalam pernyataan media yang diterima Langit7.id, Kamis (10/3/2022).
Pada sisi lain Harits menyayangkan sikap BNPT yang dinilai ambigu terkait narasi radikalisme pendakwah. BNPT secara terbuka tidak mengakui sebagai sumber informasi, tapi secara implisit justru mendorong publik untuk melakukan filtering terhadap para da’i dengan parameter yang disampaikan oleh BNPT.
“Fenomena seperti ini akan dinilai oleh publik semacam permainan opini dan propaganda dengan posisi BNPT sebagai konduktor atau pengaransemen baik secara terbuka maupun tertutup,” jelas Harits.