LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid tertua di Paris menjadi pusat komunitas muslim Prancis. Masjid yang dibangun pada 1926 itu awalnya didirikan untuk menghormati puluhan ribu tentara muslim yang gugur saat berperang untuk Prancis dalam Perang Dunia I.
Masjid Agung itu berfungsi sebagai payung untuk ratusan masjid di seluruh Prancis. Kepala Masjid Agung Paris, Dr Dalil Boubakeur, mengatakan, peran terbesar masjid tersebut adalah mempertahankan eksistensi umat Islam di Prancis.
“Kami ada untuk semua muslim,” kata Boubakeur, seperti dikutip laman
middleeasteye, Rabu (9/3/2022).
Baca juga: Perjuangan Hak Kenakan Hijab, Pengacara Prancis Maju ke Pengadilan TinggiPada saat yang sama, masjid tersebut tetap mempertahankan ciri khas Paris di setiap sudut bangunan. Setiap hari, ada ratusan muslim shalat berjamaah dari berbagai kota. Pada ibadah Jumat, jamaah masjid bisa mencapai ribuan.
Menariknya, masjid ini tidak bersifat eksklusif bagi umat Islam saja. Pengurus masjid mempersilahkan setiap nonmuslim yang hendak berkunjung sekadar mencari ketenangan dan kenyamanan.
Di masjid itu, terdapat sebuah bangunan khusus yang menyediakan fasilitas umum bagi siapa saja, ada sauna, pancuran air panas, serta layanan pijat dan waxing. Selain itu, ada restoran yang menjadi tujuan favorit warga kota. Restoran itu menyajikan banyak pilihan menu seperti teh mint segar dan berbagai hidangan seperti
couscous dan
tagine.
“Saya suka datang ke sini bersama teman-teman saya. Kami memiliki teh mint dan makan berbagai jenis baklava,” kata Mélanie Martin, perawat dan seorang ateis.
Menjembatani kesenjanganDari perspektif politik, Masjid Agung Paris berfungsi sebagai jembatan antara negara Prancis dan warga muslim. Politisi sering menghadiri acara-acara penting di masjid tersebut. Banyak pula di antara mereka yang memiliki hubungan dekat dengan Boubakeur.
“Masjid Agung selalu memiliki hubungan yang sangat baik dengan pihak berwenang. Paris bangga dengan masjidnya,” kata Boubakeur.
Baca juga: Interfaith and IslamophobiaMasjid tersebut menjadi tempat strategis pemerintah memerangi radikalisasi di kalangan pemuda Prancis. Tak hanya itu, Boubakeur juga menggunakan masjid sebagai pusat penanganan islamofobia.
Baoubakeur mengatakan, tujuan utama Masjid Agung Paris adalah menumbuhkan toleransi antaragama dan rasa saling menghormati di tengah-tengah masyarakat Prancis.
“Prancis adalah negara yang mencakup semua individu di mana kita bisa hidup bersama. Saya mendukung integrasi muslim sehingga pada akhirnya, muslim atau nonmuslim, kita semua adalah orang Prancis,” ucap Boubakeur.
(jqf)