home global news

Ketika Ulama Mendekati Penguasa

Sabtu, 12 Maret 2022 - 04:05 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Ulama merupakan tempat bertanya dan meminta nasihat bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, ulama memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.

Namun, ketika seorang ulama mendekati penguasa dengan maksud mendapatkan akses kemudahan, maka itu menjadi kurang patut. Seharusnya pemimpinlah yang mendatangi ulama. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw: "Ulama paling buruk adalah yang mengunjungi penguasa dan penguasa paling baik adalah yang mengunjungi ulama."

Baca juga:Noor Saadeh, Musisi Klasik Mualaf yang Berdakwah Lewat Pendidikan

Aktivis dan cendikiawan muda, Yudi Latif mengatakan hadis di atas seharusnya dimaknai secara alegoris. Maksudnya hadis di atas bermakna kiasan untuk menyatakan maksud lain yang lebih esensial.

"Menurut Jalaluddin Rumi, bukan berarti ulama (ilmuwan) tak boleh memasuki istana (kekuasaan), melainkan tak sepatutnya mempersembahkan ilmu pada kekuasaan, sehingga daulat kebenaran ilmu diperbudak ambisi materi dan jabatan," ujar Yudi Latif, dikutip dari Instagram pribadinya @yudi.latif, Jumat (11/3/2022).

Penulis buku "Negara Paripurna: Historis, Rasionalitas, Aktivitas Pancasila itu menjelaskan, seorang ulama hendaknya menghias dirinya dengan ilmu bukan untuk menarik perhatian para penguasa, melainkan semata demi Kebenaran (Al-Haq).

Baca juga:Pesantren Kreatif iHAQi, Ajari Santri Hadapi Tantangan Zaman
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
ulama cendekiawan muslim pemimpin yudi latif
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya