LANGIT7.ID, Jakarta - Ulama merupakan tempat bertanya dan meminta nasihat bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, ulama memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.
Namun, ketika seorang ulama mendekati penguasa dengan maksud mendapatkan akses kemudahan, maka itu menjadi kurang patut. Seharusnya pemimpinlah yang mendatangi ulama. Sebagaimana sabda
Nabi Muhammad Saw: "Ulama paling buruk adalah yang mengunjungi penguasa dan penguasa paling baik adalah yang mengunjungi ulama."
Baca juga: Noor Saadeh, Musisi Klasik Mualaf yang Berdakwah Lewat PendidikanAktivis dan cendikiawan muda, Yudi Latif mengatakan
hadis di atas seharusnya dimaknai secara alegoris. Maksudnya hadis di atas bermakna kiasan untuk menyatakan maksud lain yang lebih esensial.
"Menurut Jalaluddin Rumi, bukan berarti ulama (ilmuwan) tak boleh memasuki istana (kekuasaan), melainkan tak sepatutnya mempersembahkan ilmu pada kekuasaan, sehingga daulat kebenaran ilmu diperbudak ambisi materi dan jabatan," ujar Yudi Latif, dikutip dari Instagram pribadinya @yudi.latif, Jumat (11/3/2022).
Penulis buku "Negara Paripurna: Historis, Rasionalitas, Aktivitas Pancasila itu menjelaskan, seorang
ulama hendaknya menghias dirinya dengan ilmu bukan untuk menarik perhatian para penguasa, melainkan semata demi Kebenaran (Al-Haq).
Baca juga: Pesantren Kreatif iHAQi, Ajari Santri Hadapi Tantangan ZamanJika perilakunya sesuai dengan jalan yang benar dan jadi karakternya, maka dia tidak akan melakukan sesuatu selain demi Kebenaran. Seperti ikan yang tak mampu hidup dan tumbuh kecuali di air.
"Orang alim seperti itu benar-benar memiliki akal yang dapat mengontrol dirinya. Kemilau cahaya ilmunya memberikan manfaat bagi umat termasuk juga penguasa," katanya.
Baca juga:
Imam Ad-Dirouty, Ulama Penjual Buah yang Lantang di Depan Penguasa
Keutamaan Niat dan Sahur saat Ramadhan, Ini Pandangan Buya Yahya
(asf)