LANGIT7.ID, Bandung - Pesantren tidak lagi berkonsentrasi pada kuning saja, namun juga bisa beradaptasi dengan zaman. Inilah konsep SMP Kreatif iHAQi Boarding School yang dipimpin Ustadz Erick Yusuf.
Pesantren modern ini berlokasi di Cilacap, Bandung, Jawa Barat itu mengimplementasikan konsep
personality index Islam. Lewat konsep itu, bukan hanya nilai akademik siswa yang dinilai, tetapi juga nilai-nilai keislaman.
Tiap tahun, pesantren yang pertama kali beroperasi pada 2017 itu rutin mengadakan program bea santri untuk program pesantren digital
entrepreneurship. Program itu untuk memfasilitasi para santri, khususnya santri yatim dan dhuafa.
Baca juga: DMI: Pondok Pesantren Harus Jadi Lokomotif PerubahanMateri yang diajarkan dalam program itu meliputi kurikulum pesantren, kurikulum digital, dan kurikulum entrepreneurship. Kapasitas program bea santri ini terbatas, yakni hanya 10 santri saja yang memiliki hafalan Al-Qur'an minimal satu juz. Pelaksanaannya yakni mondok di pesantren selama satu tahun.
"Selain ada pembelajaran tatap muka di pesantren, ada juga kegiatan tambahan meliputi
workshop dan
fieldtrip sebagai penunjang program bea santri tersebut," kata Erick Yusuf melalui keterangan tertulis, Jumat (11/3/2022).
Pembelajaran digital diberikan kepada para santri agar mereka bisa menjawab tantangan di masa kini dan masa depan, didukung dengan kurikulum entrepreneurship yang akan memberikan wawasan kepada santri. Mereka akan memiliki jiwa entrepreneur seperti mengelola usaha dengan skill khusus.
Metode Pembelajaran Pesantren iHAQiIHAQI menggunakan kurikulum 2013 seperti pada umumnya. Namun, kurikulum itu dimodifikasi dengan sedikit sentuhan konsep dari berbagai negara maju. Salah satunya dari Finlandia.
Kurikulum itu tidak menerapkan sistem juara, sehingga semua santri memiliki kesempatan yang sama. Meski mereka memiliki keahlian berbeda, tapi tetap punya kesempatan yang sama untuk juara.
Baca juga: Memilih Pondok Pesantren untuk Anak, Lihat Figur Kiai hingga Kiprah AlumninyaPara santri juga belajar dengan cara
fun dan kreatif diimplementasikan dengan ruangan lesehan,
indoor, dan
outdoor.
Di pesantren ini juga kreativitas santri dilatih dengan workshop. Para santri dua pekan sekali dituntut membuat produk, di antaranya dari barang-barang bekas.
Untuk tenaga pengajar, iHAQi merekrut lulusan S2. Ada pula beberapa guru dari luar negeri berkat kerjasama dengan sekolah-sekolah di Turki, Mesir, dan Amerika.
Keunikan lain, jika di pesantren pada umumnya, penggunaan telepon genggam dilarang, di sini para santri dapat menggunakannya. Hanya saja, waktu penggunaan tetap diatur. Itu salah satu cara pihak pesantren mendidik santri agar tidak ketinggalan zaman.
Baca juga: Pilih Tinggal di Rumah Sederhana, Azis 'Gagap' Prioritaskan Pendidikan Anak dan Bangun PesantrenPara guru mengajari santri menggunakan gawai secara bijak dan untuk kepentingan syariat. Demikian pun dengan laptop. Itu sebagai upaya beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Kendati begitu, pelajaran agama tetap dikedepankan. Pelajaran agama tetap dikaji menggunakan metode pesantren tradisional. Buku-buku yang diajarkan pun sama, seperti kita tauhid, fikih, akidah, hingga bahasa.
(jqf)