LANGIT7.ID - Memilih pondok pesantren untuk buah hati terbilang susah-susah gampang. Bagi orang tua yang berlatar belakang pesantren tentu tak sulit mencari referensi pesantren untuk anak. Namun, bagi sebagian orang memilih pesantren yang cocok merupakan hal yang susah.
Apalagi, jika orang tua tidak memiliki pengalaman nyantri dan tidak ada keluarga yang mempunyai latar belakang pesantren. Itu menjadi tantangan tersendiri. Terlebih model pendidikan pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan lain.
Tak bisa dipungkiri, pesantren menawarkan pendidikan akhlak yang kuat. Itu menjadi salah satu alasan banyak orang tua menjadikan pesantren sebagai referensi pendidikan untuk anak. Terlebih bagi orang tua yang tidak bisa memberi pengawasan penuh kepada anak karena pekerjaan atau aktivitas lain.
Nah, berikut ini 4 tips memilihkan pondok pesantren berdasarkan penuturan Ustadz Syarif Hade:
1. Melihat Kiprah AlumniTips paling utama bagi orang tua yang menyekolahkan anaknya di pondok pesantren adalah melihat kiprah alumninya. Perlu melihat terlebih dahulu peran para alumni suatu pesantren di tengah masyarakat.
“Apakah pesantren itu sudah melahirkan alumni-alumni yang sudah berhasil di masyarakat, melahirkan para ulama, tokoh agama, dan alumni yang mengerti ilmu agama,” kata Ustadz Syarif Hade melalui akun youtube-nya, dikutip Senin (13/12/2021).
Paling mudah mengukur track record suatu pesantren berkualitas adalah dengan melihat alumninya. Apakah para alumninya menjadi ulama, tokoh agama, atau profesi yang bermanfaat di tengah masyarakat, dan memahami agama dengan baik dan lurus.
Dia mencontohkan, model pesantren modern ada Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Selain Gontor, ada banyak pesantren modern yang melahirkan alumni yang berkualitas. Tapi, dalam hal keberhasilan pesantren modern, Gontor bisa menjadi salah satu kiblat.
Pesantren tradisional ada Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Lirboyo di Kediri, Pesantren Lasem di Rebang, dan Pesantren Darussunnah di Ciputat.
Baca Juga: Begini Cara Mendidik Santriwati di Pondok Pesantren
“Soal kiprah alumni penting untuk melihat
track record sebuah pesantren. Ini pilihan. Terserah mau pilih pesantren modern, pesantren tahfidz, pesantren klasik, atau pesantren lain,” ucapnya.
2. Aktivitas KiaiAktivitas kiai menentukan banyak hal, termasuk keberkahan ilmu yang akan didapatkan santri. Orang tua bisa melihat apakah kiai suatu pesantren murni pendidik atau lebih banyak berceramah di luar pesantren. Ini juga menjadi satu pertimbangan.
Hal itu dikarenakan kiai menjadi figur sentral di pesantren. Kiai selalu menjadi tolak-ukur dalam melakukan kegiatan di pesantren. Maka aktivitas kiai yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan pesantren sedikit banyak mempengaruhi laju pesantren, termasuk para alumninya.
Syarif Hade mencontohkan kiai yang aktif di dunia politik. Ini penting dipahami. Segala hal memiliki konsekuensi. Jika pesantren bukan fokus pada ilmu politik, maka hal tersebut perlu menjadi pertimbangan. Ini karena pendidikan pesantren tidak menjadi maksimal.
“Ini pun perlu dilihat lebih jauh, apakah kiai yang terjun ke politik itu, apakah terlalu menghabiskan terlalu banyak waktunya untuk kepentingan non pesantren atau bagaimana beliau mengaturnya. Karena, dua-duanya akan jadi amanah. Di politik juga ada amanah, di pesantren juga ada amanah. Kalau tidak seimbang pasti ada yang terkorbankan. Pasti ada amanah yang tidak tertunai,” ucapnya.
3. Model PembelajaranOrang tua harus melihat model pembelajaran yang diterapkan di suatu pesantren. Ada banyak fokus pesantren dalam hal model pembelajaran. Ada pesantren yang khusus menghafal Al-Qur’an, kitab kuning, nahwu saraf, fikih, tafsir, tasawuf, tarekat, hingga hadits.
“Ini adalah pertimbangan-pertimbangan dalam memilih model pembelajaran pesantren, termasuk terkait dengan kurikulum. Kurikulum yang disiapkan di pesantren itu seperti apa, itu juga perlu dilihat sedari awal. Apa saja yang akan diajarkan,” kata Syarif Hade.
Pertimbangan itu perlu agar orang tua bisa mengetahui proyeksi anak ke depan akan seperti apa setelah lulus pesantren. Misalnya, jika memilih pesantren yang konsen di bidang ilmu fikih, tentu pas lulus akan menjadi ulama fikih.
“Terkait model pembelajaran, ada juga model kelas, sorogan, bandongan. Maka kalau menyekolahkan anak di pesantren, pertimbangan seperti ini harus dilihat juga supaya kita juga tidak kecewa, kalau pesantren itu tidak jelas metode pembelajarannya,” tutur Syarif Hade.
4. Santri Mau Dicetak Sebagai ApaBeberapa tahun terakhir muncul tren baru yakni pesantren penghafal Al-Qur’an. Ini sangat istimewa, namun perlu ada pembagian agar tidak semua fokus pada pembelajaran Al-Qur’an, harus ada yang menjadi ulama fiqih, dan ulama di bidang lain.
“Kita harus tahu keunggulan anak kita itu di mana, kalau dalam menghafal tidak terlalu baik, tapi kalau dalam hal lain, analisisnya tajam, logikanya mantap, masukkan ke pesantren yang konsen di ushul fikih, mantiq, dan lain-lain. Atau anak suka ke hadits, ke Bahasa, tafsir, sirah, tinggal sesuaikan saja, yang tepat,” katanya.
Intinya, harus ada yang menjadi ahli Qur’an, ahli fikih, maupun jadi ahli sirah. Semua ditujukan untuk memperkuat Islam agar menjadi agama yang dihormati. Memang ada orang tua yang sudah sangat percaya dengan kiai. Itu tidak masalah. Tapi perlu ada pertimbangan rasional dalam memilihkan pendidikan pesantren untuk anak.
“Belakangan muncul juga tren pesantren yang semi sekolah,
boarding school, jadi pesantren itu mencetak agar alumninya nanti masuk ke perguruan tinggi umum, seperti UI, UGM, dan lainnya. Tidak masalah, tapi jangan semua pesantren mengikuti tren seperti ini,”urainya.
(jqf)