LANGIT7.ID-Sosok raja bijak dalam
Al-Qur’an ini mengajarkan bahwa kekuasaan hanyalah amanah, bukan sarana kesombongan.
Di antara untaian kisah Al-Qur’an yang penuh hikmah, nama
Dzulqarnain muncul sebagai figur langka: seorang pemimpin perkasa, adil, dan bertakwa. Namanya disebut dalam
Surah Al-Kahfi ayat 83 sampai 98. Enam belas ayat yang tak hanya mengisahkan pengembaraannya ke ujung-ujung bumi, tetapi juga menggambarkan watak seorang pemimpin ideal.
Dzulqarnain bukanlah tokoh fiktif. Ia disebut sebagai pemimpin yang diberi kekuasaan luas oleh Allah:
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا"
Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu." (QS Al-Kahfi: 84)
Tapi berbeda dari banyak penguasa, ia tak silau oleh kekuatan yang ia miliki. Kepemimpinannya diwarnai keadilan. Terhadap yang zalim, ia tegas menghukum. Kepada yang beriman, ia memberi ganjaran baik.
Baca juga: Menembus Batas Matahari: Tafsir Kepemimpinan Dzulqarnain Tiga ekspedisi besar ia lakukan. Ia menjelajahi bumi hingga ke barat, lalu ke timur, dan terakhir ke daerah pegunungan yang memisahkan manusia dari Ya’juj dan Ma’juj. Dalam setiap perjalanan, ia berjumpa berbagai kaum, dengan karakter yang berbeda-beda.
Puncak dari kisahnya adalah saat ia diminta suatu kaum untuk melindungi mereka dari kerusakan yang ditimbulkan Ya’juj dan Ma’juj. Mereka bahkan menawarkan upah, tetapi Dzulqarnain menolak dengan bijak:
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ"
Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat)." (QS Al-Kahfi: 95)
Ia hanya meminta bantuan tenaga rakyat. Dengan besi yang dipanaskan hingga merah membara, lalu disiram tembaga cair, ia membangun benteng raksasa di celah dua gunung. Dinding itu begitu kokoh hingga Ya’juj dan Ma’juj tak sanggup memanjat ataupun melubanginya.
Namun setelah benteng selesai, ia tetap merendah:
قَالَ هَ?ذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي"
Ini adalah rahmat dari Tuhanku." (QS Al-Kahfi: 98)
Ia tak mengklaim keberhasilan itu sebagai hasil jerih payahnya sendiri. Sebuah sikap yang jarang kita temui dari para pemimpin masa kini.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Pelayan Raja, Bukan Pelayan Sayuran Cermin Bagi PemimpinDari kisah Dzulqarnain, para ulama merangkum sejumlah hikmah yang relevan bagi siapa saja yang diberi amanah kekuasaan.
Pertama, bahwa Allah memberi kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, bukan karena kehebatan manusia itu sendiri. Kedua, penguasa sejati adalah mereka yang bersikap adil: menghukum yang zalim, menghargai yang baik. Ketiga, seorang pemimpin sejati menjaga kehormatan diri dengan tidak memperkaya diri dari harta rakyat. Keempat, semua keberhasilan wajib dikembalikan kepada Allah, sebagai bentuk syukur.
Dzulqarnain menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik adalah tentang keberanian membela kebaikan, keadilan yang merata, integritas dalam menjaga kehormatan diri, dan kerendahan hati di hadapan Allah.
Dalam catatan Ibnu Katsir dan para ahli tafsir, sifat Dzulqarnain yang tegas terhadap kezaliman namun lembut terhadap orang baik, serta penolakannya terhadap upah rakyat, menjadikannya salah satu teladan paling jelas tentang kepemimpinan Islami.
Baca juga: Makna Taubat Nasuha: Pendapat Kalangan Salaf, Termasuk Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim Hingga hari ini, nama Dzulqarnain tetap harum sebagai pemimpin yang mewariskan pelajaran abadi: kebaikan dan keadilan lebih berharga daripada kekuasaan itu sendiri. Ia tidak dikenal karena berapa lama ia berkuasa, atau berapa luas kerajaannya, tetapi karena keberanian, akhlak, dan cintanya pada rakyat.
Seperti yang ditulis dalam Al-Qur’an, benteng yang ia bangun memang akan runtuh pada waktunya — namun teladan yang ia tinggalkan tak akan pernah hancur.
Wallahu a’lam.
(mif)