LANGIT7.ID-Dari antara kisah-kisah besar yang diabadikan dalam
Surat Al-Kahfi, nama
Dzulqarnain mencuat sebagai simbol penguasa adil yang dianugerahi kekuatan dan jalan menuju segala penjuru bumi. Namun, seperti halnya kisah-kisah penuh isyarat dalam
Al-Qur’an, narasi tentang Dzulqarnain tidak menyebut dengan gamblang siapa tokoh ini, di mana ia tinggal, atau kapan tepatnya ia hidup. Kekosongan data inilah yang justru mengandung pesan yang lebih dalam: fokus Al-Qur’an bukan pada fakta sejarah yang kasat mata, melainkan pada nilai-nilai yang abadi dan lintas zaman.
“
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal,” demikian firman Allah dalam Surat Yusuf ayat 111. Dalam konteks ini, Dzulqarnain bukan sekadar tokoh sejarah yang misterius, tapi sosok teladan dalam memikul kekuasaan dan amanah.
Dalam Surat Al-Kahfi ayat 84, Allah menyatakan bahwa Dzulqarnain diberi kekuasaan di bumi serta kemampuan menjangkau segala penjuru. Ia pergi ke arah matahari terbenam dan bertemu dengan kaum yang tidak dikenal. Kemudian ia bergerak ke arah matahari terbit dan kembali bertemu kaum lain. Dan yang paling monumental, ia membangun dinding raksasa yang menghalangi bangsa
Ya’juj dan Ma’juj.
Baca juga: Akhir Zaman: Isfahan, Khurasan dan Ramalan Tentara Yahudi dalam Pasukan Dajjal Namun, dari segala prestasi geopolitik ini, satu hal yang paling ditekankan oleh Al-Qur’an adalah bahwa Dzulqarnain tetap bersikap
tawadhu. Ketika dinding penghalang itu selesai, ia tidak memuji dirinya. Ia tidak berkata, “Lihatlah hasil kekuatan dan strategi saya.” Sebaliknya, ia berkata, “Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
Ucapan ini mencerminkan mentalitas seorang pemimpin yang sadar bahwa segala capaian hanyalah titipan. Bahwa kekuasaan bukan tempat menancapkan ego, tapi ladang untuk menumbuhkan amanah. Ketika kebanyakan penguasa tertunduk oleh gengsi dan keakuan, Dzulqarnain justru menunjuk ke langit dan menunduk kepada-Nya.
Kisah yang Tidak Menjawab Semua TanyaDi tengah semangat zaman modern yang haus kepastian historis, kisah Dzulqarnain justru menantang pembaca untuk menerima keterbatasan pengetahuan. Lokasi mata air hitam tempat terbenamnya matahari, siapa sebenarnya kaum Ya’juj dan Ma’juj, atau di mana bendungan raksasa itu berdiri—semua tetap menjadi misteri. Tafsir dan pendapat ahli sejarah banyak bermunculan, dari menyamakannya dengan Aleksander Agung, Cyrus Persia, hingga raja-raja Asia Tengah. Namun tak satu pun dapat dikonfirmasi secara nash.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam
Fatawa Mu’ashirah, menekankan bahwa Al-Qur’an tidak bermaksud menghadirkan kisah sebagai ensiklopedia sejarah. Tujuannya adalah pelajaran moral, spiritual, dan sosial. Jika informasi waktu dan tempat tidak disebut, itu karena ia tidak relevan terhadap inti pesan.
Baca juga: Kiamat dan Kemunculan Dajjal: Kisah Safi ibn Sayyad Kunci utama dalam kepemimpinan Dzulqarnain adalah keadilan. Dalam Surat Al-Kahfi ayat 87–88, ia menegaskan: siapa yang zalim, akan dihukum. Siapa yang berbuat baik, akan dibalas dengan yang lebih baik. Tidak ada bias politik, tidak ada kelas sosial dalam keadilannya. Ia menjalankan hukum berdasarkan prinsip, bukan kedekatan. Dan ini dilakukan dalam wilayah kekuasaan yang sangat luas, dari Barat hingga Timur.
Lebih dari itu, Dzulqarnain tetap menjaga istikamah. Ia tidak tergoda oleh pencapaian, tidak berubah haluan karena tekanan, dan tetap menyandarkan segala keputusan kepada Tuhan. Ini adalah teladan tentang bagaimana kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga—bukan karena posisi itu sendiri, tetapi karena bagaimana ia digunakan.
Pelajaran untuk Zaman KiniDalam lanskap kekuasaan kontemporer, kisah Dzulqarnain menawarkan refleksi tajam. Dunia dipenuhi pemimpin yang terobsesi pada pengaruh, namun abai pada tanggung jawab. Banyak yang membangun dinding, tetapi demi memisahkan dan mendominasi. Banyak yang berkeliling dunia, tetapi bukan untuk menegakkan keadilan, melainkan menyebar dominasi.
Dzulqarnain datang dari arah sebaliknya: ia memperluas wilayah, tapi justru untuk menyejukkan bumi. Ia membangun kekuatan, namun selalu mengakuinya sebagai rahmat Tuhan. Ia memimpin dunia, tapi tidak kehilangan ruh. Ia menyentuh batas-batas matahari, tetapi tetap berpegang pada cahaya iman.
Baca juga: Benarkah Dajjal Blasteran Manusia dan Jin? Begini Penjelasan Syaikh Al-Utsaimin Dalam ketidaktahuan kita tentang siapa Dzulqarnain, justru tersembunyi ajakan agar siapa pun, di zaman kapan pun, bisa bercermin dan berkata: "Beginilah seharusnya seorang pemimpin—teguh, adil, dan tahu bahwa segala yang besar, bermula dari mengakui siapa yang Mahabesar."
(mif)