LANGIT7.ID-Sejak diangkat menjadi penasihat istana, Nasrudin Hoja tampak sangat sibuk. Ia mondar-mandir di lorong-lorong kerajaan, memeriksa dapur, memberi perintah ke para penjaga, bahkan sesekali ikut mencicipi makanan di dapur dengan alasan “menjaga kualitas”.
Suatu siang, ketika Raja sedang bersantai di balairung, perutnya berbunyi. Beberapa koki segera menyajikan hidangan yang tampak begitu lezat: sepiring besar sayuran yang dimasak dengan rempah-rempah rahasia istana. Aroma harum memenuhi ruangan.
Raja menyuap satu sendok, matanya berbinar. Ia menoleh pada Nasrudin yang berdiri di sampingnya.
“Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah?”
Dengan cekatan dan penuh hormat, Nasrudin membungkuk.
“Teramat baik, Tuanku. Tiada bandingnya.”
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin: Ketika Kapal Hampir Tenggelam dan Janji Mulai Berhamburan Karena sangat menyukainya, raja pun memerintahkan agar hidangan itu dimasak setiap hari. Maka selama lima hari berturut-turut, para koki istana tak menyajikan apapun selain sayuran yang sama, persis seperti pertama kali.
Hari keenam, ketika untuk kesepuluh kalinya hidangan itu muncul di meja, raja yang sudah bosan setengah mati berteriak marah:
“Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!”
Tanpa kehilangan ketenangan, Nasrudin maju ke depan, membungkuk, dan berkata:
“Memang sayuran terburuk di dunia, Tuanku.”
Raja menatapnya tajam, heran.
“Tapi belum satu minggu yang lalu engkau mengatakan bahwa itu sayuran terbaik!”
Dengan senyum tipis, Nasrudin menjawab pelan namun mantap:
“Memang benar, Tuanku. Tapi saya pelayan raja, bukan pelayan sayuran.”
Raja terdiam, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Seisi ruangan pun ikut tertawa lega — kecuali para koki yang masih bingung harus masak apa esok hari.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Utang Terima Kasih yang Terlalu Lama ---
Berikut beberapa pelajaran yang bisa dipetik:1. Kesetiaan itu pada prinsip, bukan pada hal yang tak bernyawa. Nasrudin mengingatkan bahwa seorang pelayan, pemimpin, atau siapa pun yang diberi amanah, tugasnya adalah melayani orang yang ia beri bakti, bukan membela benda, jabatan, atau kebiasaan yang bisa berubah kapan saja. Ia tidak fanatik pada “sayuran,” tapi pada siapa yang menjadi tuannya.
2. Fleksibilitas adalah bagian dari kebijaksanaan. Dalam hidup, selera dan keadaan bisa berubah, maka kita pun perlu mampu menyesuaikan diri, tanpa kehilangan integritas. Nasrudin tidak kaku membela sesuatu hanya karena dulu pernah memujinya, karena yang penting adalah kebutuhan orang yang ia layani.
3. Jangan lebih cinta pada cara daripada tujuan. Banyak orang terjebak mencintai caranya, metodenya, bahkan benda-benda di sekitarnya, sampai lupa tujuan utamanya. Nasrudin menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah membuat raja senang — bukan mempromosikan sayuran.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Dagang Tangga, Naik Ilmu4.
Sindirian bagi penjilat dan fanatik buta. Kisah ini juga menyindir orang-orang yang membela sesuatu habis-habisan hanya demi terlihat setia, padahal seharusnya kesetiaan itu kepada nilai, kebenaran, atau pihak yang dilayani — bukan pada hal kecil yang tak penting.
Seperti biasa, dengan humornya yang ringan, Nasrudin mengajarkan bahwa kebijaksanaan sering kali bukan soal siapa paling keras bersikap, tapi siapa paling mengerti kapan harus berkata “terbaik” dan kapan harus berkata “terburuk.”
(mif)