LANGIT7.ID-Suatu hari,
Nasrudin Hoja hampir tergelincir ke kolam di taman kota. Kakinya terpeleset, tubuhnya miring, dan hanya tinggal satu detik sebelum ia tercebur, ketika seorang lelaki yang kebetulan lewat menyambar lengannya dan menariknya kembali ke daratan.
"Terima kasih, sungguh terima kasih!" ujar Nasrudin sambil mengusap keringat. Lelaki itu mengangguk penuh kemenangan.
Namun setelah kejadian itu, setiap kali lelaki itu melihat Nasrudin di pasar, masjid, atau bahkan sedang menyapu halaman rumah, ia selalu berkata, "Hati-hati, Mullah! Jangan sampai jatuh ke kolam seperti tempo hari. Untung ada aku waktu itu."
Pada awalnya Nasrudin masih membalas dengan sopan dan senyum malu-malu. Tapi lama-lama ia lelah.
Bahkan ketika sedang membeli terong, lelaki itu menepuk pundaknya dan berbisik, "Kalau saja aku tidak lewat waktu itu..."
Akhirnya, pada hari yang ke entah berapa, Nasrudin berkata, "Ayo ikut aku sebentar."
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Dagang Tangga, Naik Ilmu Mereka pun berjalan ke arah kolam tempat insiden itu terjadi. Tanpa banyak bicara, Nasrudin naik ke bibir kolam, lalu dengan mantap melompat ke dalam air.
Ia berdiri basah kuyup, menatap lelaki itu dari dalam kolam. "Nah, sekarang aku sudah benar-benar jatuh dan basah seperti yang seharusnya terjadi jika engkau dulu tidak menolongku. Sudah, selesai! Tidak ada yang perlu dikenang lagi. Pergi sana!"
Lelaki itu pun tercengang, dan sejak hari itu tak pernah menyebut-nyebut jasanya lagi.
Hikmah Kisah:Budi baik adalah kemuliaan, tetapi mengungkit-ungkitnya terus menerus bisa mengubah kemuliaan itu menjadi beban. Terlalu sering mengingatkan orang lain akan hutang budinya justru membuatnya merasa terkekang, bukan bersyukur. Dalam tasawuf, memberi tanpa mengharap balasan adalah bentuk tertinggi dari keikhlasan. Seperti matahari yang memberi cahaya tanpa bertanya siapa yang memanfaatkannya, demikian pula seharusnya kebaikan: cukup dilakukan, lalu dilupakan.
Kadang yang lebih sulit dari menolong adalah belajar melupakan bahwa kita pernah menolong.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Nasib dan Asumsi(mif)