LANGIT.ID-
Mu’adz bin Jabal, sahabat muda Nabi yang paling paham halal-haram, wafat di puncak wabah Tha’un di negeri Syam, setelah menyerahkan hidupnya untuk ilmu dan iman.
Udara di dataran Amwas,
Palestina, terasa berat dan pengap di tahun 17 Hijriyah. Seakan seluruh tanah Syam menahan napas. Borok-borok mekar di kulit para penduduk, satu demi satu roboh. Wabah itu, yang oleh orang-orang disebut Tha’un Amwas, melahap manusia dalam ribuan, meninggalkan jalan-jalan sunyi penuh jenazah.
Di salah satu tenda yang penuh isak, tubuh tinggi dan gagah Mu’adz bin Jabal sudah rebah lemah. Tangannya, yang dulu kerap menulis fatwa dan menunjuk arah bagi umat, kini terjulur seperti hendak bersalaman dengan malaikat maut. “Selamat datang wahai maut,” bisiknya, “kekasih yang tiba di saat diperlukan.”
Tak lama, Mu’adz, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai “orang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”, pergi untuk selamanya. Usianya baru 33 tahun.
Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni Nama lengkapnya Mu’adz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, julukannya Abu Abdurrahman. Lahir di Madinah, ia baru 18 tahun ketika datang berbai’at kepada Nabi di Aqabah bersama rombongan 70-an orang dari Madinah. Fisiknya gagah, berkulit putih, rambutnya ikal, giginya putih berkilau.
Semenjak memeluk Islam, ia kembali ke Madinah sebagai dai muda. Beberapa pemuka kaum, seperti Amru bin al-Jamuh, masuk Islam lewat dakwahnya. Rasulullah lalu mempersaudarakannya dengan Ja’far bin Abi Thalib, dan mengutusnya menjadi guru di Yaman.
Kala itu Rasulullah sendiri mengantar kepergiannya, berjalan kaki di samping tunggangan Mu’adz. Di ujung jalan beliau berpesan sambil menahan air mata, “Wahai Mu’adz, sungguh aku mencintaimu. Jangan kau lupakan untuk selalu membaca doa ini seusai setiap shalat: ‘Ya Allah, tolong aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu’.”
Baca juga: Ilmu Fikih: Penyebab Ikhtilaf di Kalangan Sahabat Nabi Muhammad SAW Sepanjang hidupnya, Mu’adz memang lebih sering terlihat di majelis ilmu daripada di medan perang. Dialah sahabat yang dengan berani berkata kepada Rasulullah, ketika ditanya pedoman dalam mengadili sesuatu: “Kitabullah. Jika tidak aku temukan di dalamnya, maka Sunnah Rasul. Jika tidak pula kutemukan, aku akan berijtihad dengan pikiranku.” Rasulullah tersenyum puas mendengar jawabannya.
Kepercayaan yang tinggi pada ilmunya membuat Umar bin Khattab, sang Khalifah kedua, sering berkata: “Kalau bukan karena Mu’adz, celakalah Umar.”
Wawasannya yang luas dalam fikih membuatnya didaulat sebagai penasihat Umar, dan setelah Abu Ubaidah wafat dalam wabah Tha’un, Mu’adz diangkat menjadi pemimpin Syam menggantikannya. Namun pangkat itu hanya sebentar ia emban. Wabah yang telah merenggut Abu Ubaidah menyeretnya pula ke tepi kematian.
Baca juga: Pandangan tentang Modernisasi Tafsir: Hadis dan Pendapat Sahabat Nabi Di saat-saat akhir, Mu’adz sempat menengadah dan berdoa lirih:
"Ya Allah, selama ini aku takut pada-Mu, tapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Engkau tahu, aku tidak mencintai dunia untuk sungai-sungainya atau pohon-pohonnya, tetapi hanya untuk menutup dahaga di kala panas, menghadapi saat-saat genting, dan menambah ilmu, iman, dan ketaatan."
Kemudian tangannya terulur, seakan menyambut jemputan maut. Dan ia pun pergi, dengan tenang, di antara ribuan korban Tha’un yang menghitamkan Amwas kala itu.
Sejarawan Muslim hampir selalu menyelipkan kisah Mu’adz ketika menulis masa Umar bin Khattab. Ia mewakili wajah lain Syam yang baru saja takluk—negeri yang tak hanya dikuasai dengan pedang, tetapi juga diwarnai ilmu. Mu’adz adalah contoh: cendekiawan muda yang dengan santun mengajarkan agama pada penduduk yang baru mengenal Islam.
Wabah yang datang memang kejam, tapi tak pernah sanggup meruntuhkan senyum Mu’adz yang tetap cerah hingga ajal tiba. Di jalan-jalan Palestina, hingga kini, namanya tetap bergaung sebagai guru yang memilih mati bersama rakyatnya, bukan lari dari takdir.
Sang sahabat muda itu beristirahat di tanah Amwas, dengan gelar yang tak pernah pudar: orang yang paling tahu tentang halal dan haram—dan yang paling siap merangkul maut dengan penuh cinta.
Baca juga: Riba Menurut Al-Quran: Para Sahabat Nabi Sendiri Sempat Mempraktikkan(mif)