Pendidikan Seksual Masih Pro dan Kontra, Simak Penjelasan AILA
Mahmuda attar hussein
Ahad, 13 Maret 2022 - 18:40 WIB
Ilustrasi pendidikan seksual. (Foto: Istock).
Pendidikan seksual saat ini masih menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Hal ini karena masih belum ditemukam model yang cocok, berlaku universal.
Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Rita Soebagio mengatakan, konsep seksualitas menjadi teori terpinggirkan selama ini. Sebab, masih dianggap tidak mencerminkan refleksi ilmiah.
"Jadi ini hanya dibahas psikiatri atau pun biomedis, termasuk penyakit seksual," kata Rita di International Seminar on Feminism, Minggu (13/3/2022).
Namun seiring perkembangannya, seksualitas kini dianggap mulai berkaitan dalam kehidupan sosial dan politik. Karena seks menjadi permainan akan kekuasaan.
Hal itu menyebabkan lahirnya teori relasi kuasa. Dijelaskan dalam teori ini, seseorang melaksanakan dominasi atau kekuasaan, sehingga setiap subjek dapat melakukan manipulasi ideologi, yang menyebabkan masalah kemerdekaan.
"Ketika berbicara relasi kuasa dan dominasi, akan ada potensi kekerasan yang mengancam kebebasan. Rumitnya lagi, sexual consent dikaitkan dengan moral dan etika," katanya.
Awalnya, kata dia, pendidikan seksualitas bertujuan mendorong kesucian, mencegah prostitusi, dan masturbasi. Namun, terjadi masa perdebatan tentang model yang paling sesuai dan bisa menyelesaikan masalah di tengah masyarakat.
Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Rita Soebagio mengatakan, konsep seksualitas menjadi teori terpinggirkan selama ini. Sebab, masih dianggap tidak mencerminkan refleksi ilmiah.
"Jadi ini hanya dibahas psikiatri atau pun biomedis, termasuk penyakit seksual," kata Rita di International Seminar on Feminism, Minggu (13/3/2022).
Namun seiring perkembangannya, seksualitas kini dianggap mulai berkaitan dalam kehidupan sosial dan politik. Karena seks menjadi permainan akan kekuasaan.
Hal itu menyebabkan lahirnya teori relasi kuasa. Dijelaskan dalam teori ini, seseorang melaksanakan dominasi atau kekuasaan, sehingga setiap subjek dapat melakukan manipulasi ideologi, yang menyebabkan masalah kemerdekaan.
"Ketika berbicara relasi kuasa dan dominasi, akan ada potensi kekerasan yang mengancam kebebasan. Rumitnya lagi, sexual consent dikaitkan dengan moral dan etika," katanya.
Awalnya, kata dia, pendidikan seksualitas bertujuan mendorong kesucian, mencegah prostitusi, dan masturbasi. Namun, terjadi masa perdebatan tentang model yang paling sesuai dan bisa menyelesaikan masalah di tengah masyarakat.