Mengenal Fenomena La Nina, Penyebab Musim Hujan di Indonesia
Ummu hani
Jum'at, 18 Maret 2022 - 18:30 WIB
Ilustrasi langit mendung. (Foto: Langit7.id/iStock)
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan fenomena La Nina masih berlangsung di Indonesia sehingga musim penghujan belum kunjung usai. Hal ini menyebabkan mundurnya musim kemarau hingga pertengahan 2022.
Lantas apa itu fenomena La Nina? Melansir dari situs BMKG, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.
Baca Juga:Fenomena La Nina Masih Berlangsung, Musim Kemarau Indonesia Mundur
Sebab, angin pasat (trade winds) berhembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Hal ini yang kemudian menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat.
Secara umum, La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Mulai dari banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung dan lain sebagainya.
Fenomena La Nina bisa diukur dengan dua cara, yakni sea surface temperature (SST) dan southern oscilation index (SOI). Pengukuran dengan SOI, yaitu dengan mencatat perbedaan tekanan udara permukaan di daerah Pasifik Timur dengan tekanan udara permukaan daerah Indo-Australia.
Baca Juga:Prakiraan Cuaca Hari Ini Sejumlah Daerah Diguyur Hujan
Lantas apa itu fenomena La Nina? Melansir dari situs BMKG, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.
Baca Juga:Fenomena La Nina Masih Berlangsung, Musim Kemarau Indonesia Mundur
Sebab, angin pasat (trade winds) berhembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Hal ini yang kemudian menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat.
Secara umum, La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Mulai dari banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung dan lain sebagainya.
Fenomena La Nina bisa diukur dengan dua cara, yakni sea surface temperature (SST) dan southern oscilation index (SOI). Pengukuran dengan SOI, yaitu dengan mencatat perbedaan tekanan udara permukaan di daerah Pasifik Timur dengan tekanan udara permukaan daerah Indo-Australia.
Baca Juga:Prakiraan Cuaca Hari Ini Sejumlah Daerah Diguyur Hujan