Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home global news detail berita

Mengenal Fenomena La Nina, Penyebab Musim Hujan di Indonesia

ummu hani Jum'at, 18 Maret 2022 - 18:30 WIB
Mengenal Fenomena La Nina, Penyebab Musim Hujan di Indonesia
Ilustrasi langit mendung. (Foto: Langit7.id/iStock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan fenomena La Nina masih berlangsung di Indonesia sehingga musim penghujan belum kunjung usai. Hal ini menyebabkan mundurnya musim kemarau hingga pertengahan 2022.

Lantas apa itu fenomena La Nina? Melansir dari situs BMKG, La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.

Baca Juga: Fenomena La Nina Masih Berlangsung, Musim Kemarau Indonesia Mundur

Sebab, angin pasat (trade winds) berhembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Hal ini yang kemudian menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat.

Secara umum, La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Mulai dari banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung dan lain sebagainya.

Fenomena La Nina bisa diukur dengan dua cara, yakni sea surface temperature (SST) dan southern oscilation index (SOI). Pengukuran dengan SOI, yaitu dengan mencatat perbedaan tekanan udara permukaan di daerah Pasifik Timur dengan tekanan udara permukaan daerah Indo-Australia.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini Sejumlah Daerah Diguyur Hujan

SOI diukur lebih lama dari SST, SOI diukur selama enam bulan. Jika angkanya +5 sampai +10 maka tahun tersebut akan disebut dengan tahun La Nina.

Sementara pengukuran dengan SST dikelompokkan sebagai berikut:

1. La Nina lemah, jika SST bernilai lebih besar dari -0,5 dan berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.

2. La Nina sedang, jika SST menunjukkan nilai -0,5 sampai -1 dan berlangsung minimal tiga bulan berturut-turut.

3. Terakhir La Nina kuat, jika nilai SST lebih kecil dari -1 selama setidaknya tiga bulan berturun-turut.

Baca Juga:

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah 17-19 Maret

Mengenal 4 Jenis Petir dan Proses Pembentukannya

(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)