home edukasi & pesantren

Ponpes Langitan, Tempat KH Hasyim Asy’ari dan Syaikhona Kholil Nyantri

Rabu, 28 Juli 2021 - 16:00 WIB
Para santri Ponpes Langitan sedang mengikuti upaca bendera dalam rangka HUT Kemerdekaan (foto: intagram/@rminujatim)
Saat pertama kali berdiri, Pondok Pesantren Langitan hanya sebuah surau kecil di daerah Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sang pendiri, KH Muhammad Nur, mengajar keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir penjajah dari tanah Jawa. KH Muhammad Nur mengasuh pondok sekitar 18 tahun mulai tahun 1852 hingga 1870.

Selain itu, pondok ini ternyata pernah menjadi tempat belajar pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. KH Hasyim Asy’ari, menghabiskan 3 tahun di pondok pesantren tersebut pada akhir tahun 1900-an. Ada pula tokoh-tokoh NU yang pernah belajar di pesantren tersebut seperti KH Syamsul Arifin (ayah KH As’ad Syamsul Arifin), KH Shiddiq (ayah KH Ahmad Shiddiq), KH Wahab Hasbullah.

Mengutip laman resmi Ponpes Langitan, perjalanan Ponpes Langitan memperlihatkan peningkatan dinamis dan signifikan dari waktu ke waktu. Bermula dari masa KH Muhammad Nur yang merupakan sebuah fase perintisan, lalu diteruskan masa H Ahmad Sholeh dan KH Muhammad Khozin yang dapat dikategorikan periode perkembangan. Kemudian berlanjut pada pengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid, KH Ahmad Marzuqi Zahid dan KH Abdulloh Faqih yang tidak lain adalah fase pembaharuan.

Dalam perkembangannya, Ponpes Langitan terus berupaya melakukan perbaikan dan kontekstualitas dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen. Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekuensi dari sebuah dunia yang modern. Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan-batasan yang konkret, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh merubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.

Ponpes Langitan berpegang teguh pada kaidah “Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholih Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah” yakni memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif. Itu membuat ponpes itu tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi, namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis, dan bahkan kadang-kadang dianggap sebagai alternatif.

Meski berawal dari surai kecil, dalam rentang satu abad Ponpes Langitan menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Di sisi lain, ponpes ini berperan penting dalam meningkatkan intelektualitas masyarakat. Dalam perkembangannya, santri tak hanya dari Indonesia, tapi juga dari negara tetangga seperti Malaysia.

Salah satu bukti konkret gerakan mencerdaskan bangsa itu yakni banyak tokoh nasional lahir dari pondok tersebut. Melansir dari NU Online, pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pernah nyantri di Langitan. Beliau ngaji Alfiyah sampai khatam di Ponpes Langitan. Beliau merupakan adik kelas dari Syaikhona Kholil Bangkalan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pesantren tradisional kh hasyim asy'ari ponpes syechona cholil ponpes langitan
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya