Dr Hayat Sindi, Muslimah Pendobrak Teknologi Kesehatan Dunia
Dwitisya Rizky Desindatika
Kamis, 10 Februari 2022 - 11:50 WIB
Dr Hayat Sindi, ilmuwan bioteknologi yang aktif melakukan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan di negara-negara berkembang (sumber: natgeo)
Tidak ada hal yang tidak mungkin diraih jika Allah SWT sudah mengabulkan doa dan melihat usaha kita, apalagi jika pencapaian tersebut nantinya untuk membantu orang banyak. Dr Hayat Sindi adalah salah satu yang membuktikan bahwa kekuatan doa dan ikhtiar nyata adanya. Dari ikhtiarnya, kini ia dikenal sebagai ilmuwan di bidang bioteknologi yang telah banyak memberdayakan masyarakat di negara berkembang.
Sindi berasal dari Mekah, Arab Saudi dan dibesarkan di keluarga yang sangat mendukung pendidikannya. "Setelah dibesarkan di arab Saudi, saya beruntung mendapatkan landasan kepercayaan diri yang kuat ini," katanya kepada Entrepreneur Middle East yang dilansir dari National Geographic, (5/11/2019).
"Budaya, keluarga, dan iman saya semuanya telah berkontribusi pada landasan itu. Saya memiliki seorang ayah yang dapat mengajari saya apa pun yang saya inginkan," tambahnya.
Berdasar pada kepercayaan diri, kecintaan kepada sains dan dukungan keluarga, perempuan kelahiran 6 November 1967 ini ingin terus belajar dengan tujuan mulia yaitu memajukan pendidikan sains khususnya di kalangan wanita muda dan bioteknologi di negara-negara berkembang.
Seperti yang ia sampaikan kepada NatGeo, "Bagi saya, sains adalah bahasa universal yang mengungguli kebangsaan, agama, dan gender. Itu dapat membantu mengatasi masalah apa pun yang dihadapi dunia kita."
Tahun 1991, Hayat Sindi pun meninggalkan rumah dan keluarganya di Mekah, di usia remajanya, ia terbang ke Inggris untuk memulai langkah awal menjadi ilmuwan.
Setelah bekerja keras untuk belajar bahasa inggris, ia diterima di King's College London , dimana dia lulus dengan gelar di bidang farmakologi pada tahun 1995. Sementara di sana ia adalah penerima gelar Princess Anne's Penghargaan untuk karya sarjananya tentang alergi.
Sindi berasal dari Mekah, Arab Saudi dan dibesarkan di keluarga yang sangat mendukung pendidikannya. "Setelah dibesarkan di arab Saudi, saya beruntung mendapatkan landasan kepercayaan diri yang kuat ini," katanya kepada Entrepreneur Middle East yang dilansir dari National Geographic, (5/11/2019).
"Budaya, keluarga, dan iman saya semuanya telah berkontribusi pada landasan itu. Saya memiliki seorang ayah yang dapat mengajari saya apa pun yang saya inginkan," tambahnya.
Berdasar pada kepercayaan diri, kecintaan kepada sains dan dukungan keluarga, perempuan kelahiran 6 November 1967 ini ingin terus belajar dengan tujuan mulia yaitu memajukan pendidikan sains khususnya di kalangan wanita muda dan bioteknologi di negara-negara berkembang.
Seperti yang ia sampaikan kepada NatGeo, "Bagi saya, sains adalah bahasa universal yang mengungguli kebangsaan, agama, dan gender. Itu dapat membantu mengatasi masalah apa pun yang dihadapi dunia kita."
Tahun 1991, Hayat Sindi pun meninggalkan rumah dan keluarganya di Mekah, di usia remajanya, ia terbang ke Inggris untuk memulai langkah awal menjadi ilmuwan.
Setelah bekerja keras untuk belajar bahasa inggris, ia diterima di King's College London , dimana dia lulus dengan gelar di bidang farmakologi pada tahun 1995. Sementara di sana ia adalah penerima gelar Princess Anne's Penghargaan untuk karya sarjananya tentang alergi.