LANGIT7.ID - Tidak ada hal yang tidak mungkin diraih jika Allah SWT sudah mengabulkan doa dan melihat usaha kita, apalagi jika pencapaian tersebut nantinya untuk membantu orang banyak. Dr Hayat Sindi adalah salah satu yang membuktikan bahwa kekuatan doa dan ikhtiar nyata adanya. Dari ikhtiarnya, kini ia dikenal sebagai ilmuwan di bidang bioteknologi yang telah banyak memberdayakan masyarakat di negara berkembang.
Sindi berasal dari Mekah, Arab Saudi dan dibesarkan di keluarga yang sangat mendukung pendidikannya. "Setelah dibesarkan di arab Saudi, saya beruntung mendapatkan landasan kepercayaan diri yang kuat ini," katanya kepada
Entrepreneur Middle East yang dilansir dari
National Geographic, (5/11/2019).
"Budaya, keluarga, dan iman saya semuanya telah berkontribusi pada landasan itu. Saya memiliki seorang ayah yang dapat mengajari saya apa pun yang saya inginkan," tambahnya.
Berdasar pada kepercayaan diri, kecintaan kepada sains dan dukungan keluarga, perempuan kelahiran 6 November 1967 ini ingin terus belajar dengan tujuan mulia yaitu memajukan pendidikan sains khususnya di kalangan wanita muda dan bioteknologi di negara-negara berkembang.
Seperti yang ia sampaikan kepada NatGeo, "Bagi saya, sains adalah bahasa universal yang mengungguli kebangsaan, agama, dan gender. Itu dapat membantu mengatasi masalah apa pun yang dihadapi dunia kita."
Tahun 1991, Hayat Sindi pun meninggalkan rumah dan keluarganya di Mekah, di usia remajanya, ia terbang ke Inggris untuk memulai langkah awal menjadi ilmuwan.
Setelah bekerja keras untuk belajar bahasa inggris, ia diterima di
King's College London , dimana dia lulus dengan gelar di bidang farmakologi pada tahun 1995. Sementara di sana ia adalah penerima gelar
Princess Anne's Penghargaan untuk karya sarjananya tentang alergi.
Dilansir dari Wikipedia, langkah Sindi dalam menuntut ilmu tidak selalu berjalan mulus. Sindi, yang mengenakan jilbab kerap mengalami tekanan untuk meninggalkan keyakinan agama dan budayanya saat di universitas. Ia bersikeras, memegang keyakinan bahwa agama, warna kulit atau jenis kelamin seseorang tidak ada hubungannya dengan kontribusi ilmiah.
"Agama, jenis kelamin, atau budaya, bukan menjadi suatu hambatan bagi seseorang berkontribusi dalam keilmuan," katanya.
Menurut Sindi, memperjuangkan sebuah mimpi adalah satu-satunya cara agar bisa mewujudkan mimpi itu sendiri. "Secara otomatis, perjuangan itu yang bisa membangun kepercayaan diri, semangat, dan hasil yang ternyata jauh lebih baik."
Berkat prinsip mempertahankan keyakinannya, Sindi tetap berusaha dan berjuang hingga menjadi wanita Saudi pertama yang diterima di Cambridge University untuk belajar di bidang bioteknologi, dan pada tahun 2001 mendapatkan gelar Ph.D., Ia pun juga menjadi wanita pertama dari negara-negara Arab yang menyelesaikan gelar doktor di bidang tersebut.
Karena semangat dan prestasinya, Sindi menjadi peneliti tamu di Universitas Harvard di mana dia dan timnya menemukan perangkat diagnostik bioteknologi. Pekerjaan laboratorium Sindi di Harvard membuatnya empat ilmuwan lain masuk dalam sebuah film dokumenter yang didukung oleh Kantor Eksekutif Presiden Amerika Serikat untuk mempromosikan pendidikan sains di kalangan anak muda.
Namanya melambung dalam dunia medis karena keahliannya dalam riset medis. Temuannya akan sebuah mesin yang menggabungkan efek cahaya dan ultra-sound untuk digunakan dalam bioteknologi, begitu fenomenal.
Sindi pun banyak berpartisipasi dalam acara yang bertujuan meningkatkan kesadaran sains di kalangan wanita, khususnya di Arab Saudi dan dunia muslim.
Ia juga tertarik dengan masalah brain drain. Pada tahun 2010, Sindi adalah pemenang Hadiah
‘Mekkah Al Mukarram’ untuk Inovasi Ilmiah, yang diberikan oleh Pangeran Khalid Al-Faisal. Pada tahun 2011 ia dinobatkan sebagai
Emerging Explorer oleh
National Geographic Society. Lalu tahun 2012, ia dinobatkan sebagai salah satu dari “150 Wanita yang Mengguncang Dunia” oleh Newsweek. Dan banyak prestasi sekaligus penobatan yang ia dapatkan dari berbagai media dan institusi.
Pada tahun 2019, Sindi bekerja di Islamic Development Bank (IsDB) di Arab Saudi sebagai pimpinan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. Setiap hari, Sindi bekerja untuk memberdayakan wanita muda dan wanita Arab untuk mengejar impian mereka. Sindi percaya pada kekuatan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi untuk memecahkan beberapa tantangan pembangunan dunia yang paling mendesak.
Pada tahun 2018, ia meluncurkan dana transformasi senilai 500 juta USD untuk mendukung para inovator menemukan solusi untuk tantangan pembangunan melalui kekuatan inovasi, dan pusat digital pertama untuk negara-negara berkembang.
Sindi adalah pendiri sekaligus Presiden
Institute of Imagination and Ingenuity (i2 institute), di Jeddah, Arab Saudi. Ia juga salah satu pendiri dan direktur
Diagnostics for All, sebuah lembaga nirlaba yang menggabungkan bioteknologi dan mikrofluida.
Lembaga itu didedikasikannya untuk menciptakan kemudahan penggunaan, diagnostik perawatan khusus yang dirancang khusus untuk 60 persen negara berkembang yang tinggal di luar jangkauan rumah sakit perkotaan dan infrastruktur medis.
Setelah semua proses yang dilalui, dan keikhlasan dalam menuntut ilmu, Dr Hayat Sindi telah mewujudkan cita-citanya. Ia tidak hanya untuk memenuhi mimpi masa kecilnya tapi juga bisa memberi imbas positif kepada orang lain bahkan dalam cakupan dunia terutama di negara berkembang.
Hayat Sindi menjadi inspirasi tidak hanya untuk sesama perempuan muslim, tapi juga seluruh muslim di dunia untuk selalu berpegang teguh pada prinsip, belajar dan menuntut ilmu untuk diniatkan hanya kepada Allah SWT, bisa berprestasi, berinovasi dan memberi manfaat yang berdampak luas untuk umat manusia.
(jqf)