LANGIT7.ID-, Jakarta- - Dosen Universitas Paramadina Jakarta, Husain Heriyanto, mengungkapkan, Abu Raihan Muhammad bin
Ahmad Al-Biruni (973-1050) merupakan sosok sarjana muslim terkemuka dalam sejarah peradaban Islam. Al-Biruni ilmuwan jenis dalam bidang sains dan humaniora.
Tokoh berdarah Persia tersebit dikenang sebagai ilmuwan serba bisa atau polymath yang jenius. Dia memiliki banyak prestasi sangat gemilang dan memperoleh beragam julukan kehormatan. Selain sebagai great scientis scholer, Al-Biruni juga disebut sebagai the first antropologis yang dianggap perintis kajian pertama kali perbandingan agama yang mengusung dialogues of civization.
"Ketika Al-Biruni selama 14 tahun tinggal di India, dia melakukan kajian yang mendalam tentang masyarakat Hindu-India, antropologi, tradisi, adat-istiadat, dan kosmologi India," kata Husain dalam webinar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Manuskrip, Literatur dan Tradisi Lisan (PR MLTL) bekerjasama dengan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, dikutip Selasa (4/7/2023).
Baca juga:
Tandai 30 Tahun Hubungan Bilateral, Indonesia dan Kazakhstan Teken MoU Ibu KotaUNESCO bahkan menyebut Al-Biruni sebagai extraordinary, genius choler, ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang memberikan kontribusi besar bagi dunia sains, geografi, astronomi, matematika, fisika, dan banyak bidang lain. Bahkan, Al-Biruni disebut sebagai Bapak Geodesi, karena orang yang dianggap pertama kali melakukan metode pengukuran titik-titik koordinat bumi.
Husain mengatakan, dialog antara sains dengan humanities, sains dengan agama, karena banyak masalah perkembangan sains yang muncul dari problem budaya atau problem humanites. Hal itu membuktikan humanities sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan tidak pernah berkembang di dalam kevakuman kebudayaan yang sesuai. Maka, di manapun, baik Asia, Afrika, Eropa ataupun di dunia modern, sains hanya mungkin berkembang di dalam suasana humanities atau kebudayaa yang sejalan.
"Al-Biruni merupakan tokoh yang bisa dijadikan icon penghubung pada dirinya, bagaimana kemampuan saintifik eksperimentalis atau pendekatan eksperimen dan pendekatan rasional," kata Husain.
Al-Biruni juga kecakapan yang mumpuni di bidang humanities dan budaya. Hal itu yang merupakan salah satu legacy sangat berarga atau warisan budaya intelektual yang ditinggalkan Al-Biruni. Bukan hanya untuk umat Islam saja, tetapi untuk seluruh dunia.
Husain menceritakan, Al-Biruni hidup sezaman dengan Ibnu Sina yang diketahui sebagai tokoh kutub intelektual peradaban Islam, seorang filosof, seorang saintis, seorang pangeran para dokter. Al-Biruni juga berkontribusi dalam bidang geografi dengan merumuskan metode untuk mengetahui jari-jari bumi dengan bantuan ketinggian pegunungan.
Baca juga:
Suka Duka Tim Safari Wukuh Lansia: Rela Memandikan dan Mengganti Pampers JemaahHusain mengutip pernyataan Arthur Pope dalam tulisannya yang berjudul "Al-Biruni as a Thinker" ini Al-Biruni Commemoration Volume (Kalkuta: 1951, P.281). Al-Biruni harus menempati peringkat tinggi dalam daftar ulama besar dunia manapun.
Tidak ada sejarah matematika, astronomi, geografi, antropologi, atau sejarah agama yang lengkap tanpa pengakuan atas kontribusinya yang sangat besar.
Salah satu pemikiran yang luar biasa sepanjang masa, dibedakan sampai tingkat yang luar biasa oleh kualitas-kualitas esensial yang memungkinkan studi sains dan sosial, Al-biruni dalam demonstrasi universalitas dan keabadian dari pikiran yang hebat.

(ori)