Ramadhan di Seluruh Dunia
Perjuangan Demi Rasakan Nuansa Ramadhan di Jepang dan Upaya Muslim Jaga Toleransi
Muhajirin
Rabu, 06 April 2022 - 23:43 WIB
Abrory Agus Cahya dalam kegiatan Ramadhan di Jepang (foto: dokumentasi pribadi)
Salah satu yang membedakan ramadhan di Jepang dengan di Indonesia adalah durasi puasa.Durasi puasa Ramadhan di Jepang ditentukan oleh keadaan cuaca Negeri Sakura tersebut. Jika musim panas, waktu siang biasanya akan lebih panjang, sehingga waktu puasa bisa sampai 17 jam.
Namun tahun ini, durasi berpuasa di sana hanya sekitar 14 jam, karena bertepatan dengan musim semi. Waktu subuh dimulai pada pukul 04.00 dan Maghrib atau berbuka puasa sekitar jam 18.00.
Abrory Agus Cahya Pramana, Alumnus The University of Tokyo, menceritakan, bulan Ramadhan di Jepang tidak jauh berbeda dengan bulan lain. Hal Ini mungkin saja karena muslim Jepang menjadi minoritas, sehingga tidak terjadi banyak perubahan suasana pada saat Ramadhan.
“Karena memang kita di negara minoritas, akhirnya puasa sambil bekerja. Tapi alhamdulillah lingkungan di sana, banyak teman-teman muslim, dari Timur Tengah, Pakistan, Bangladesh,” kata Abrory kepada LANGIT7.ID, Rabu (6/4/2022).
Baca juga: Masjidil Haram Buka 80 Ruang Shalat Baru Selama Ramadhan
Di sisi lain, jumlah masjid tidak banyak. Umat Islam di sana mesti mengeluarkan tenaga ekstra sekadar berjamaah di masjid, tak seperti di Indonesia yang keberadaan masjid ada di setiap kompleks.
Abrory termasuk muslim asal Indonesia yang merasakan hal itu. Dia harus numpang kereta untuk sampai ke salah satu masjid di Meguro City, yakni Masjid Indonesia Tokyo atau Masjid Meguro.
Namun tahun ini, durasi berpuasa di sana hanya sekitar 14 jam, karena bertepatan dengan musim semi. Waktu subuh dimulai pada pukul 04.00 dan Maghrib atau berbuka puasa sekitar jam 18.00.
Abrory Agus Cahya Pramana, Alumnus The University of Tokyo, menceritakan, bulan Ramadhan di Jepang tidak jauh berbeda dengan bulan lain. Hal Ini mungkin saja karena muslim Jepang menjadi minoritas, sehingga tidak terjadi banyak perubahan suasana pada saat Ramadhan.
“Karena memang kita di negara minoritas, akhirnya puasa sambil bekerja. Tapi alhamdulillah lingkungan di sana, banyak teman-teman muslim, dari Timur Tengah, Pakistan, Bangladesh,” kata Abrory kepada LANGIT7.ID, Rabu (6/4/2022).
Baca juga: Masjidil Haram Buka 80 Ruang Shalat Baru Selama Ramadhan
Di sisi lain, jumlah masjid tidak banyak. Umat Islam di sana mesti mengeluarkan tenaga ekstra sekadar berjamaah di masjid, tak seperti di Indonesia yang keberadaan masjid ada di setiap kompleks.
Abrory termasuk muslim asal Indonesia yang merasakan hal itu. Dia harus numpang kereta untuk sampai ke salah satu masjid di Meguro City, yakni Masjid Indonesia Tokyo atau Masjid Meguro.