LANGIT7.ID, Jakarta - Salah satu yang membedakan ramadhan di Jepang dengan di Indonesia adalah durasi puasa. Durasi puasa Ramadhan di Jepang ditentukan oleh keadaan cuaca Negeri Sakura tersebut. Jika musim panas, waktu siang biasanya akan lebih panjang, sehingga waktu puasa bisa sampai 17 jam.
Namun tahun ini, durasi berpuasa di sana hanya sekitar 14 jam, karena bertepatan dengan musim semi. Waktu subuh dimulai pada pukul 04.00 dan Maghrib atau berbuka puasa sekitar jam 18.00.
Abrory Agus Cahya Pramana, Alumnus The University of Tokyo, menceritakan, bulan Ramadhan di Jepang tidak jauh berbeda dengan bulan lain. Hal Ini mungkin saja karena muslim Jepang menjadi minoritas, sehingga tidak terjadi banyak perubahan suasana pada saat Ramadhan.
“Karena memang kita di negara minoritas, akhirnya puasa sambil bekerja. Tapi alhamdulillah lingkungan di sana, banyak teman-teman muslim, dari Timur Tengah, Pakistan, Bangladesh,” kata Abrory kepada LANGIT7.ID, Rabu (6/4/2022).
Baca juga: Masjidil Haram Buka 80 Ruang Shalat Baru Selama RamadhanDi sisi lain, jumlah masjid tidak banyak. Umat Islam di sana mesti mengeluarkan tenaga ekstra sekadar berjamaah di masjid, tak seperti di Indonesia yang keberadaan masjid ada di setiap kompleks.
Abrory termasuk muslim asal Indonesia yang merasakan hal itu. Dia harus numpang kereta untuk sampai ke salah satu masjid di Meguro City, yakni Masjid Indonesia Tokyo atau Masjid Meguro.
Itu pun tidak bisa setiap hari. Abrory terkendala pekerjaan dan status mahasiswa. Ia tak tinggal di dekat masjid. Untuk menyiasati itu, ia setiap Sabtu sore datang ke Masjid Meguro dan pulang Ahad malam. Demikian juga pada Kamis malam, agar dia bisa ikut shalat Jumat berjamaah.
Suasana Ramadhan di Masjid MeguroSuasana Ramadhan di Masjid Meguro cukup hidup. Umat Islam yang tergabung dalam Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) di Jepang memiliki banyak kegiatan. Bukan hanya berbuka dan sahur, tapi juga ada Tabligh Akbar sepekan sekali dengan mengundang ulama dari Indonesia dan Jepang.
Ada pula pengajian untuk anak-anak setiap Sabtu, dan pengajian untuk ibu-ibu setiap Jumat. Mereka menggelar bazar Ramadhan yang berbarengan dengan acara Tabligh Akbar sepekan sekali.
“Kita biasanya juga ada bazar makanan halal, tabligh Akbar itu ditunggu-tunggu karena banyak ibu-ibu di Tokyo yang bakal jualan makanan halal dan khas Indonesia, dan kita bisa beli di sana,” tutur Abrory.
![Perjuangan Demi Rasakan Nuansa Ramadhan di Jepang dan Upaya Muslim Jaga Toleransi]()
Bazar itu tak hanya ditujukan kepada umat Islam saja. KMII biasanya mengundang masyarakat nonmuslim yang ada di sekitar masjid. Mereka diberi kupon untuk berbelanja gratis di bazar. Satu kupon seharga seribu yen.
Bertoleransi Agar Saudara Nonmuslim Tak TergangguAbrory mengatakan, masyarakat Jepang yang nonmuslim turut menjunjung tinggi nilai toleransi. Banyak nonmuslim yang tinggal di sekitar Masjid Meguro. Selama ini, semua berjalan baik-baik saja, tidak gangguan sama sekali.
“Alhamdulillah, tidak ada masalah dengan kegiatan kami, bahkan ketika bazar, saudara muslim yang tinggal bersama di lingkungan itu juga mengajak,
ngasih kupon (kepada saudara nonmuslim) agar bisa hadir dalam Tabligh Akbar. Mereka juga bisa ikut serta membeli makanan makanan Indonesia,” katanya.
Masyarakat nonmuslim sama sekali tidak masalah dengan kegiatan masjid. Saat shalat Idul Fitri pun demikian. Mereka seakan sudah maklum kalau jumlah umat Islam akan membludak ketika itu.
Memang sesekali muncul hal yang kurang nyaman karena keadaan itu. Namun, KMII sangat piawai dalam melakukan pendekatan. Warga didekati dengan komunikasi yang baik, sehingga toleransi bisa diterapkan dengan baik pula.
“Akhirnya mereka tidak masalah dengan kegiatan itu, mereka menerima dan sangat bertoleransi dengan kita,” ucap Abrory.
Meski begitu, umat Islam tidak serta-merta bertindak sesuka hati. Mereka juga menjunjung tinggi toleransi. Abrory mencontohkan saat hendak pergelaran Tabligh Akbar. Tenda-tenda untuk pengajian dan bazar sudah didirikan sejak sore, dan diusahakan selesai sebelum pukul 12.00 malam.
“Kita usahakan tidak berisik, karena tetangga sudah istirahat, kita usahakan jam 12.00 sudah berhenti agar tidak mengganggu warga sekitar,” kata Abrory.
Masyarakat Jepang Antusias Belajar IslamAbrory menyebut Islam di Jepang menjadi salah satu agama yang mengalami peningkatan. Banyak masyarakat Jepang yang tertarik belajar tentang Islam. Bahkan, dai-dai asli Jepang memiliki kelas-kelas khusus untuk orang Jepang.
Kelas-kelas tersebut terbuka untuk umum. Umat Islam Bisa konsultasi perihal Islam, sementara nonmuslim bisa bertanya-tanya tentang agama yang berasal dari risalah Nabi Muhammad SAW itu.
“Kehidupan muslim asli jepang sendiri sangat baik, karena ustadz-ustadz di Jepang terus melakukan dakwah. Tidak hanya di kelas-kelas yang dibuka di KMII, mereka pun memiliki kajian sendiri,” tutur Abrory.
Bahkan, di Jepang ada Masjid Tokyo atau Tokyo Mosque (Tōkyō-jāmii/東京ジャーミイ) juga dikenal sebagai Tokyo Camii menjadi pusat dakwah muslim Jepang. Masjid itu berada di kawasan Shibuya, Tokyo, yang merupakan sebuah pusat Budaya Turki.
Baca juga: Tantangan Puasa di Kota Es China, Mesti Perkuat Iman Saat Musim Panas“Masjid Camii menjadi tempat bagi pendakwah di Jepang untuk memperkenalkan apa itu Islam. Karena masyarakat Jepang antusiasmenya itu tinggi, mereka kadang berkunjung ke masjid untuk sekadar mengetahui fungsi masjid. Mereka ingin mendengar ketika orang melantunkan adzan,” kata Abrory.
Umat Islam asal Indonesia juga berbaur dengan mereka. Bahkan, dalam Tabligh Akbar, KMII kerap mengundang ustadz-ustadz lokal. Ada pula kelas khusus untuk anak-anak keturunan Indonesia-Jepang.
“Ada momen di mana teman teman muslim asal Indonesia ikut membantu agar dakwah di Jepang bisa tersampaikan ke keturunan Indonesia-Jepang, atau orang Jepang itu sendiri. Jadi, kondisinya memang kita mencoba untuk memberikan kontribusi terhadap dakwah di Jepang,” kata Abrory.
(jqf)