LANGIT7.ID, Jakarta - Harbin merupakan daerah berjuluk Kota Es di China yang terkenal dengan festival esnya. Harbin adalah ibu kota Heilongjiang, provinsi di ujung timur laut daratan China yang berbatasan dengan Rusia. Kota ini berada di bagian utara China.
China memiliki empat musim dalam satu tahun, kondisi yang menjadikan Ramadhan selalu punya tantangan tersendiri. Saat musim panas, umat Islam harus mempertebal iman. Bukan hanya menjaga perut dari rasa lapar dan haus, tapi juga menjaga mata dari pandangan-pandangan yang menggoda iman.
Ilham Azmy, alumnus Harbin Engineering University, China menceritakan pengalamannya saat menjalani ibadah puasa saat musim panas. Tantangan fisik muncul ketika ia harus menghadapi suhu 33-34 derajat setiap hari.
Lumrah terjadi, jika muslim panas, matahari bersinar lebih lama. Ilham menyebut umat Islam di Harbin bisa menahan lapar dan haus selama 18 jam saat musim panas. Mereka sahur pukul 02.00 dini hari dan buka puasa saat 19.30.
“Jadi kalau ditotal hampir sekitar 17-18 jam, karena memang Harbin itu ada di China utara,” kata Ilham kepada LANGIT7.ID, Selasa (5/4/2022).
Baca juga: Ramadhan di Norwegia: Durasi Puasa Lebih Lama dan Tantangan dalam Mendidik AnakTantangan lain ada pada keimanan. Musim panas membuat mayoritas masyarakat mengenakan pakaian tipis, tak terkecuali perempuan. Kondisi itu membuat lelaki muslim harus bekerja kuat menundukkan pandangan setiap hari.
“Kita harus
gadhul bashar (menundukkan pandangan) lebih kuat karena pakaian nonmuslim, ketika musim panas itu, pakaian tipis-tipis. Itu menjadi sebuah godaan, tantangan yang harus kita menahan dari itu semua, khususnya bagi laki-laki,” ucap Ilham.
Di sini lain, suasana Ramadhan tidak semarak seperti di negara-negara berpenduduk muslim, seperti di Indonesia. Harbin memiliki sekitar 10 juta penduduk. Hanya 100-200 ribu yang beragama muslim. Itu pun mayoritas hanya menjalankan ritual saja.
Hal itu membuat suasana Ramadhan sama saja dengan suasana di luar Ramadhan, tidak ada bedanya. Tidak ada ucapan ‘selamat menjalankan ibadah puasa’ di pinggir jalan. Begitu pun tayangan di televisi dan radio.
Warung makan tetap buka. Orang-orang lalu lalang dengan pakaian mini menenteng makanan jadi pemandangan tiap hari. Terlebih penduduk nonmuslim di Harbin mayoritas tidak tahu tentang Ramadhan.
“Untuk suasana ramadhan di sana memang nonmuslim tidak begitu mengetahui, tapi untuk di masjid atau warga sekitar masjid suasana ramadhan cukup terasa. Apalagi memang ke masjid-masjid, kebetulan di kota Harbin itu ada 3 buah masjid yang suasananya cukup semarak, biasa ada jajan-jajanan juga di sekitar masjid, juga di dalam masjid ada buka bersama,” kata Ilham.
![Tantangan Puasa di Kota Es China, Mesti Perkuat Iman Saat Musim Panas]()
Berdamai dengan KeadaanIlham, yang kini berprofesi sebagai dosen Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Bandung, mengatakan, salah satu cara umat Islam keluar dari ragam masalah di Harbin adalah berdamai dengan keadaan.
Ada banyak tantangan yang mesti dihadapi. Pergerakan umat Islam selalu dalam pantauan pemerintah China. Itu membuat pengurus masjid selalu mengomunikasikan dengan pihak terkait jika ada kegiatan keagamaan.
Baca juga: Terima Tamu Non-Muslim di Siang Hari Ramadhan, Wajib Beri MakanDia mencontohkan saat pelaksanaan shalat Idul Fitri. Harus ada surat resmi ke instansi terkait. Saat shalat digelar, polisi berjaga untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
“Kalau kita, kalau ibadah ritual, ada perlindungan tersendiri dari pemerintah, itu di kota Harbin, sehingga kita betul-betul kita diakui sebagai umat muslim di China,” tutur Ilham.
Kondisi itu membuat umat Islam lebih fokus untuk berdamai dengan diri sendiri dan meningkatkan keimanan. Keimanan penting untuk menghadapi tantangan-tantangan batin saat berada di area publik.
Kendati minoritas, namun tidak ada ancaman keamanan. Itu ciri khas negara maju. Hal privasi jadi urusan masing-masing. Sehingga, kata Ilham, tantangan itu lebih kepada tantangan keimanan.
Tantangan itu bisa diatasi dengan memperbanyak berkumpul di komunitas. Ada 3 masjid di Harbin. Semua memiliki komunitasnya masing-masing. Terlebih ada pula komunitas-komunitas muslim dari berbagai negara. Jadi, ukhuwah Islamiyah bisa saling menguatkan keimanan.
Semarak Ramadhan di Tengah Komunitas MuslimSuasana Ramadhan memang tidak ada di area publik. Wajar, China bukan negeri mayoritas muslim. Namun, umat Islam tidak berkecil hati. Suasana Ramadhan diciptakan sendiri.
Setiap masjid ataupun komunitas selalu menghiasi tempat ibadah dengan kegiatan-kegiatan ramadhan. Misal buka puasa bersama, shalat tarawih berjamaah, banyak jajanan Ramadhan di sekitar masjid, hingga majelis ilmu.
![Tantangan Puasa di Kota Es China, Mesti Perkuat Iman Saat Musim Panas]()
Kehidupan umat Islam pun sangat rukun. Saat Ramadhan tiba, akan didapati satu keluarga bergandengan tangan ke mesjid. Orang tua mengajak anak-anaknya. Ada pula anak yang menggandeng orang Tuanya yang sudah sepuh.
“Di setiap masjid ada buka bersama, yang berbeda memang suasananya, karena kita berpuasa dengan orang asing. Terasa sekali ukhuwah Islamiyah, yang kita berbeda suku, budaya, negara, tapi kita satu akidah sehingga rasa persaudaraan begitu terasa,” jelas Ilham.
(jqf)