PTKIN, Solusi Pendidikan untuk Generasi Milenial
Muhajirin
Kamis, 07 April 2022 - 22:01 WIB
Gedung Rektorat UIN Antasari, salah satu PTKIN unggulan di Kalimantan (foto: uin-antasari.ac.id)
Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PMB PTKIN) 2022, Imam Taufiq, mengatakan, PTKIN menjadi salah satu solusi pendidikan bagi generasi milenial saat ini.
Hal tersebut tidak terlepas dari masalah yang timbul di tengah generasi mudah akibat perkembangan teknologi. Dia menyebut ada jurang antara kemajuan teknologi dan moralitas.
“Kemajuan teknologi yang tidak diimbagi dengan bekal kecakapan wawasan atau pengetahuan, keterampilan digital serta keshalehan sosial berdampak pada munculnya miss-practice dalam pemanfaatan teknologi dan perangkat pendukung lainnya,” kata Taufiq dalam diskusi Ditjen Pendis Kemenag, Kamis (7/4/2022).
Dia mengurai tiga masalah yang muncul di tengah masyarakat itu. Pertama, floating mass society, kondisi di mana masyarakat atau generasi milenial tidak lagi memegang nilai-nilai agama, sosial, dan budaya dalam aktivitas keseharian (tidak berpendirian). Mereka mudah terbawa arus maupun pengaruh negatif dari media dan teknologi lainnya.
Baca juga: Tahapan Daftar UTBK-SBMPTN 2022 Menggunakan KIP Kuliah
Kedua, culture shock dan culture lag, kondisi di mana jurang antara masyarakat atau generasi milenial sebagai dampak dari disparitas keterampilan digital, sehingga akan muncul praktik diskriminasi serta beragam justifikasi negatif terhadap kelompok masyarakat yang tidak mampu mengikuti perkembangan peradaban global.
Ketiga, disfungsi media dan digital. Ketidakbijakan dalam pemanfaatan media dan teknologi justru memicu munculnya praktik buruk seperti hate speech, hoaks, serta berbagai tindakan kriminal yang dilakukan dalam ruang maya maupun ruang nyata.
Hal tersebut tidak terlepas dari masalah yang timbul di tengah generasi mudah akibat perkembangan teknologi. Dia menyebut ada jurang antara kemajuan teknologi dan moralitas.
“Kemajuan teknologi yang tidak diimbagi dengan bekal kecakapan wawasan atau pengetahuan, keterampilan digital serta keshalehan sosial berdampak pada munculnya miss-practice dalam pemanfaatan teknologi dan perangkat pendukung lainnya,” kata Taufiq dalam diskusi Ditjen Pendis Kemenag, Kamis (7/4/2022).
Dia mengurai tiga masalah yang muncul di tengah masyarakat itu. Pertama, floating mass society, kondisi di mana masyarakat atau generasi milenial tidak lagi memegang nilai-nilai agama, sosial, dan budaya dalam aktivitas keseharian (tidak berpendirian). Mereka mudah terbawa arus maupun pengaruh negatif dari media dan teknologi lainnya.
Baca juga: Tahapan Daftar UTBK-SBMPTN 2022 Menggunakan KIP Kuliah
Kedua, culture shock dan culture lag, kondisi di mana jurang antara masyarakat atau generasi milenial sebagai dampak dari disparitas keterampilan digital, sehingga akan muncul praktik diskriminasi serta beragam justifikasi negatif terhadap kelompok masyarakat yang tidak mampu mengikuti perkembangan peradaban global.
Ketiga, disfungsi media dan digital. Ketidakbijakan dalam pemanfaatan media dan teknologi justru memicu munculnya praktik buruk seperti hate speech, hoaks, serta berbagai tindakan kriminal yang dilakukan dalam ruang maya maupun ruang nyata.