Jadi Booster Pfizer dan Sinovac, AstraZeneca Belum Yakin
Ajeng ritzki
Sabtu, 31 Juli 2021 - 21:07 WIB
Analisa vaksin AstraZeneca di Laboratorium Pusat RND, Cambridge, Inggris Foto: AstraZeneca
Efektivitas vaksin Covid-19 menurun setelah 6 bulan dosis kedua, demikian CEO Pfizer Albert Bourla, mengakui. Sehingga, menurut dia, booster dibutuhkan untuk memberikan kekebalan untuk melindungi tubuh dari varian delta yang menyebar dengan cepat.
Beberapa vaksin disebut sebagai booster ketiga, salah satunya AstraZeneca. Sementara dari pihak Zeneca mengaku belum yakin apakah perlu atau tidak dosis ketiga vaksin Covid-19 buatannya untuk memberikan perlindungan lebih lanjut terhadap virus corona.
Ini pernyataan dari CEO AstraZeneca Pascal Soriot, seperti dikutip dari CNBC.com, Jumat (30/7/2021).
"Ada dua dimensi kekebalan, antibodi menurun seiring waktu dan yang sangat penting dari vaksinasi adalah sel-T. Mereka cenderung melindungi orang dari penyakit parah, tetapi juga memberikan daya tahan," papar Soriot.
"Dengan teknologi yang kami gunakan, kami memproduksi sel-T yang sangat tinggi. Kami berharap dapat memiliki vaksin yang melindungi dalam jangka waktu lama. Jadi, apakah kami akan membutuhkan booster ketiga atau tidak masih belum jelas, hanya waktu yang akan menjawab."
Sel-T merupakan sejenis sel darah putih yang memainkan peran berbeda dalam mempertahankan tubuh melawan serangan virus. Antibodi mencegah virus menyerang sel tetapi tidak bertahan selama sel-T.
Pascal Soriot menambahkan bahwa satu-satunya cara untuk memastikan apakah suntikan booster betul-betul diperlukan adalah dengan melihat indikasi kemanjuran vaksin menurun seiring waktu.
Beberapa vaksin disebut sebagai booster ketiga, salah satunya AstraZeneca. Sementara dari pihak Zeneca mengaku belum yakin apakah perlu atau tidak dosis ketiga vaksin Covid-19 buatannya untuk memberikan perlindungan lebih lanjut terhadap virus corona.
Ini pernyataan dari CEO AstraZeneca Pascal Soriot, seperti dikutip dari CNBC.com, Jumat (30/7/2021).
"Ada dua dimensi kekebalan, antibodi menurun seiring waktu dan yang sangat penting dari vaksinasi adalah sel-T. Mereka cenderung melindungi orang dari penyakit parah, tetapi juga memberikan daya tahan," papar Soriot.
"Dengan teknologi yang kami gunakan, kami memproduksi sel-T yang sangat tinggi. Kami berharap dapat memiliki vaksin yang melindungi dalam jangka waktu lama. Jadi, apakah kami akan membutuhkan booster ketiga atau tidak masih belum jelas, hanya waktu yang akan menjawab."
Sel-T merupakan sejenis sel darah putih yang memainkan peran berbeda dalam mempertahankan tubuh melawan serangan virus. Antibodi mencegah virus menyerang sel tetapi tidak bertahan selama sel-T.
Pascal Soriot menambahkan bahwa satu-satunya cara untuk memastikan apakah suntikan booster betul-betul diperlukan adalah dengan melihat indikasi kemanjuran vaksin menurun seiring waktu.