Ayah Cinta Pertama bagi Anak Perempuannya
Fajar adhitya
Ahad, 01 Agustus 2021 - 02:53 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/ iStock
Sosok ayah adalah cinta pertama bagi anak-anak perempuannya. Ayah hadir sebagai sosok teladan, pelindung, dan penjaga yang sesungguhnya. Terlebih bagi anak-anak perempuan, dari kecil hingga dewasa.
Tak heran, seorang anak gadis selalu mendapat perhatian lebih dari sang ayah. Dipantau, diawasi, dan diperhatikan kebutuhannya. Namun, bagaimana dengan sang anak perempuan? Kepada siapa hakikat cinta pertamanya terpaut?
Memang indah bagi seorang anak yang tumbuh dan besar dengan kasih sayang dan cinta ayahnya. Dia tidak mengenal belaian kecuali belaian ayahnya. Tak pula mengenal cinta kecuali cinta sang ayah. “My Dad is My First Love”. Anak-anak yang tumbuh tanpa cinta sang ayahnya, kehilangan kehadirannya, dan tidak kebagian waktu di antara kesibukannya, adalah kehilangan yang besar.
Sama seperti hilangnya cinta sang anak kepada orang tuanya. Sebuah hakikat cinta pertama yang pernah ada bagi setiap orang. Karena itu, para ayah, jangan biarkan anak-anak haus atas cinta dan kehadiranmu. Mereka harus prioritas dalam hidup. Mereka punya hak tumbuh dan berkembang dalam belaian cinta.
Begitulah cara Nabi SAW mengajarkan cinta kepada anak. Dan Fatimah, anak perempuan Nabi memberi keteladanan bagaimana ia mencinta sang ayah, lebih dari yang lain. Pendidikan Rasulullah terhadap Fatimah menjadi inspirasi bagi ummat dalam membina rumah tangga.
Fatimah besar dalam didikan dan kasih sayang Rasulullah. Bukan hanya Rasulullah yang mencintai Fatimah, tetapi sebaliknya Fatimah juga demikian. Ayahnyalah yang menjadi cinta pertama Fatimah dan Rasulullah SAW begitu mencintai Fatimah.
Saat orang-orang Quraisy melemparkan kotoran ke punggung Rasulullah yang sedang shalat. Fatimah yang saat itu masih kecil datang membawa air lalu membersihkan kotoran tersebut. Setelah itu, Fatimah mendatangi para pembesar Quraisy itu dan menghujat mereka dengan kata-kata yang keras.
Tak heran, seorang anak gadis selalu mendapat perhatian lebih dari sang ayah. Dipantau, diawasi, dan diperhatikan kebutuhannya. Namun, bagaimana dengan sang anak perempuan? Kepada siapa hakikat cinta pertamanya terpaut?
Memang indah bagi seorang anak yang tumbuh dan besar dengan kasih sayang dan cinta ayahnya. Dia tidak mengenal belaian kecuali belaian ayahnya. Tak pula mengenal cinta kecuali cinta sang ayah. “My Dad is My First Love”. Anak-anak yang tumbuh tanpa cinta sang ayahnya, kehilangan kehadirannya, dan tidak kebagian waktu di antara kesibukannya, adalah kehilangan yang besar.
Sama seperti hilangnya cinta sang anak kepada orang tuanya. Sebuah hakikat cinta pertama yang pernah ada bagi setiap orang. Karena itu, para ayah, jangan biarkan anak-anak haus atas cinta dan kehadiranmu. Mereka harus prioritas dalam hidup. Mereka punya hak tumbuh dan berkembang dalam belaian cinta.
Begitulah cara Nabi SAW mengajarkan cinta kepada anak. Dan Fatimah, anak perempuan Nabi memberi keteladanan bagaimana ia mencinta sang ayah, lebih dari yang lain. Pendidikan Rasulullah terhadap Fatimah menjadi inspirasi bagi ummat dalam membina rumah tangga.
Fatimah besar dalam didikan dan kasih sayang Rasulullah. Bukan hanya Rasulullah yang mencintai Fatimah, tetapi sebaliknya Fatimah juga demikian. Ayahnyalah yang menjadi cinta pertama Fatimah dan Rasulullah SAW begitu mencintai Fatimah.
Saat orang-orang Quraisy melemparkan kotoran ke punggung Rasulullah yang sedang shalat. Fatimah yang saat itu masih kecil datang membawa air lalu membersihkan kotoran tersebut. Setelah itu, Fatimah mendatangi para pembesar Quraisy itu dan menghujat mereka dengan kata-kata yang keras.