Rokok Elektrik Lebih Sehat, Siapa Bilang? Ini Faktanya
Ummu hani
Kamis, 02 Juni 2022 - 14:05 WIB
Seorang dokter mendiagnosa paru-paru lewat hasil foto rontgen thorax atau dada (ilustrasi) Foto: Langit7.id/Istock
Beberapa tahun belakangan, rokok elektrik sangat populer di kalangan remaja. Perangkat berjenis vape atau pod ini merupakan alternatif dari rokok konvensional yang diklaim lebih sehat karena mengandung nikotin yang rendah.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menekankan, pemahaman tersebut kurang tepat. Rokok elektrik sejatinya sama bahaya dengan rokok konvensional. Kandungan yang terdapat dalam rokok elektrik antara lain nikotin, zat kimia, serta perasa/flavour yang bersifat toxic atau racun.
Baca Juga:Asap Rokok Masih Penyebab No.1 Penyakit Paru Kronik
"Tidak ada bedanya risiko merokok konvensional dan elektrik, dua-duanya sama bahayanya baik itu sekarang dari segi sosial ekonomi maupun untuk masa depan masalah penyakit yang mungkin timbul dari aktivitas merokok elektrik," ujarnya, dalam keterangan resmi, dikutip Langit7.id, Kamis (2/5/2022).
Jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama, zat-zat ini bisa menyebabkan masalah kesehatan serius di masa depan seperti penyakit kardiovaskular, kanker, paru-paru, tuberkulosis, dan lainnya. Konsumsi rokok elektrik di kalangan remaja turut berdampak pada tingginya prevalensi perokok elektrik di Indonesia.
Hasil survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 menunjukkan prevalensi perokok elektrik naik dari 0.3 persen (2011) menjadi 3 persen (2021). Kemudian, prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun juga meningkat sebesar 19,2 persen.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menekankan, pemahaman tersebut kurang tepat. Rokok elektrik sejatinya sama bahaya dengan rokok konvensional. Kandungan yang terdapat dalam rokok elektrik antara lain nikotin, zat kimia, serta perasa/flavour yang bersifat toxic atau racun.
Baca Juga:Asap Rokok Masih Penyebab No.1 Penyakit Paru Kronik
"Tidak ada bedanya risiko merokok konvensional dan elektrik, dua-duanya sama bahayanya baik itu sekarang dari segi sosial ekonomi maupun untuk masa depan masalah penyakit yang mungkin timbul dari aktivitas merokok elektrik," ujarnya, dalam keterangan resmi, dikutip Langit7.id, Kamis (2/5/2022).
Jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama, zat-zat ini bisa menyebabkan masalah kesehatan serius di masa depan seperti penyakit kardiovaskular, kanker, paru-paru, tuberkulosis, dan lainnya. Konsumsi rokok elektrik di kalangan remaja turut berdampak pada tingginya prevalensi perokok elektrik di Indonesia.
Hasil survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 menunjukkan prevalensi perokok elektrik naik dari 0.3 persen (2011) menjadi 3 persen (2021). Kemudian, prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun juga meningkat sebesar 19,2 persen.