LANGIT7, Jakarta - Beberapa tahun belakangan, rokok elektrik sangat populer di kalangan remaja. Perangkat berjenis vape atau pod ini merupakan alternatif dari rokok konvensional yang diklaim lebih sehat karena mengandung nikotin yang rendah.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menekankan, pemahaman tersebut kurang tepat. Rokok elektrik sejatinya sama bahaya dengan rokok konvensional. Kandungan yang terdapat dalam rokok elektrik antara lain nikotin, zat kimia, serta perasa/flavour yang bersifat toxic atau racun.
Baca Juga: Asap Rokok Masih Penyebab No.1 Penyakit Paru Kronik"Tidak ada bedanya risiko merokok konvensional dan elektrik, dua-duanya sama bahayanya baik itu sekarang dari segi sosial ekonomi maupun untuk masa depan masalah penyakit yang mungkin timbul dari aktivitas merokok elektrik," ujarnya, dalam keterangan resmi, dikutip
Langit7.id, Kamis (2/5/2022).
Jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama, zat-zat ini bisa menyebabkan masalah kesehatan serius di masa depan seperti penyakit kardiovaskular, kanker, paru-paru, tuberkulosis, dan lainnya. Konsumsi rokok elektrik di kalangan remaja turut berdampak pada tingginya prevalensi perokok elektrik di Indonesia.
Hasil survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 menunjukkan prevalensi perokok elektrik naik dari 0.3 persen (2011) menjadi 3 persen (2021). Kemudian, prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun juga meningkat sebesar 19,2 persen.
Baca Juga: Demi Sebatang Kenikmatan, Banyak Perokok Korbankan Gizi KeluargaWamenkes berharap temuan ini bisa menjadi landasan bagi para stakeholder dan masyarakat terutama orang tua untuk bersama-sama menghentikan aktivitas merokok terutama di kalangan remaja. Jika tidak, kebiasaan buruk merokok pada generasi muda dikhawatirkan kian meningkat serta menimbulkan kesehatan serius di masa depan.
“Temuan survei GATS ini diharapkan bisa menjadi sarana edukasi berbasis keluarga supaya orang mau berhenti merokok dan mau membelanjakan uangnya untuk makanan bergizi dan kegiatan bermanfaat dibandingkan membeli rokok,” ucap Wamenkes.
Baca Juga:
Bantu Kerabat yang Ingin Berhenti Merokok dengan Cara Ini
Pengusaha Keluhkan Pelarangan Pajang Reklame dan Display Rokok
IDEAS: 7,8 Juta Perokok Miskin Alami Kerawanan Pangan Hingga Kelaparan(asf)