home global news

Tarik Ulur Kelompok Nasionalis, Islam, dan Sekuler terhadap Sila Ketuhanan

Kamis, 02 Juni 2022 - 23:45 WIB
Pegiat sejarah, Beggy Rizkiyansyah menjelaskan, dalam sejarahnya, Pancasila mengalami berbagai perubahan dari gagasan 1 Juni 1945 oleh Sukarno. Foto: Istimewa.
Sila pertama Pancasila yang kita kenal saat ini adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Posisinya jauh berbeda dengan rumusan Pancasila yang dicetuskan Sukarno dengan menempatkan Ketuhanan dalam posisi buntut.

Pegiat sejarah, Beggy Rizkiyansyah menjelaskan, dalam sejarahnya, Pancasila mengalami berbagai perubahan dari gagasan 1 Juni 1945 oleh Sukarno. Saat itu, terlihat jelas Ketuhanan bukan di urutan pertama.

“Jika diperas, seperti dalam pidato Sukarno tersebut, Ketuhanan bukanlah intisarinya. Sila Ketuhanan justru mendapat perhatian setelah dikompromikan dengan perwakilan kelompok Islam yang awalnya mengajukan Islam sebagai dasar negara,” kata Beggy kepada Langit7.id, Kamis (2/6/2022).

Baca Juga:

Dalam benak Bung Karno kala itu, Ketuhanan hanyalah sebatas pengakuan terhadap Tuhan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan kebebasan beragama. Hal ini berbeda 180 derajat dengan anggota sidang 1 Juni 1945 lainnya, Ki Bagus Hadi Kusumo yang menawarkan Islam sebagai dasar negara.

Meski pidato Bung Karno secara substansi menjadi isi hampir seluruh undang-undang dasar dan pembukaan undang-undang dasar yang sekarang , tapi gagasan Sukarno pada 1 Juni itu belum cukup memuaskan, khususnya para tokoh Islam. Sidang kemudian memutuskan membentuk Panitia Sembilan.

Pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menggelar pertemuan untuk merumuskan dasar negara. Selain Sukarno, anggotanya adalah Mohamad Hatta, Mohamad Yamin, Achmad Soebarjo, A.A Maramis, Abdulkahar Muzakir, KH Wahid Hasyim, Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pancasila sejarah ekonomi pancasila nasionalis
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya