Umat Islam Harus Sikapi Covid-19 dengan Aqidah yang Benar
Muhajirin
Rabu, 04 Agustus 2021 - 09:30 WIB
ilustrasi penyikapan covid-19 dengan aqidah yang benar, tetap ikhtiar bermasker san di rumah saja sembari terus berdoa kepada Allah SWT (foto: langit7.id/istock)
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti, menilai pandemi Covid-19 memunculkan kembali pola pikir dari aqidah menyimpang seperti mu’tazilah, jabariyah dan qadariyah. Fenomena tersebut dapat dilihat dari reaksi masyarakat dalam memandang pandemi.
Dia menyebut ada masyarakat yang memandang covid-19 sebagai hukuman dari Allah SWT. Ada pula yang mengatakan sebagai musibah. Kelompok lain menyebut wabah dari Wuhan, Cina itu merupakan peristiwa alam biasa.
“Cara menyikapinya juga sangat beragam dan cara penyikapan itu mengingatkan kita pada diskursus klasik tentang perdebatan-perdebatan teologi Islam seperti antara mu’tazilah, jabariyah, dan kelompok Ahlussunnah,” kata Mu’ti dikutip laman resmi Muhammadiyah, Rabu (4/8/2021).
Kelompok jabariyah berpandangan fatalistik yang pasrah terhadap keadaan. Mereka menganggap covid-19 sudah ketentuan Allah namun enggan berikhtiar. Lalu kelompok mu’tazilah dan qadariyah menganggap covid-19 murni ulah manusia, bukan kehendak Allah.
Namun, kata Mu’ti, ada kelompok Ahlussunnah dengan aqidah lurus yang menyebut covid-19 merupakan kehendak Allah SWT, dan manusia berkewajiban untuk berikhtiar. Kelompok itu berusaha mendapatkan takdirNya yang terbaik. Memang, kata dia, ketika qadha dan qadarNya berlaku, maka manusia harus menerima takdir tersebut, karena itu merupakan ketetapan yang terbaik.
“Kalau kita membaca Al-Qur’an maka ada sebagian manusia itu yang berimannya kepada Allah itu ‘ala harfin, berimannya itu di pinggir-pinggir saja, setengah-setengah saja. Yang kalau mereka itu diuji dengan musibah yang baik mereka diam saja tetapi ketika mereka diuji dengan musibah yang tidak baik mereka balik pandang dan menyalah-nyalahkan keadaan dan sebagainya,” tutur Mu’ti.
Mu’ti mengajak masyarakat menganggap covid-19 sebagai bagian dari musibah atau ujian dari Allah SWT. Sebuah ujian yang tidak bisa ditolak. Pandemi covid-19, kata dia, merupakan cara Allah meningkatkan kemuliaan dan ketinggian martabat manusia Indonesia sebagai bangsa. covid-19 pula menjadi ujian untuk keimanan manusia.
Dia menyebut ada masyarakat yang memandang covid-19 sebagai hukuman dari Allah SWT. Ada pula yang mengatakan sebagai musibah. Kelompok lain menyebut wabah dari Wuhan, Cina itu merupakan peristiwa alam biasa.
“Cara menyikapinya juga sangat beragam dan cara penyikapan itu mengingatkan kita pada diskursus klasik tentang perdebatan-perdebatan teologi Islam seperti antara mu’tazilah, jabariyah, dan kelompok Ahlussunnah,” kata Mu’ti dikutip laman resmi Muhammadiyah, Rabu (4/8/2021).
Kelompok jabariyah berpandangan fatalistik yang pasrah terhadap keadaan. Mereka menganggap covid-19 sudah ketentuan Allah namun enggan berikhtiar. Lalu kelompok mu’tazilah dan qadariyah menganggap covid-19 murni ulah manusia, bukan kehendak Allah.
Namun, kata Mu’ti, ada kelompok Ahlussunnah dengan aqidah lurus yang menyebut covid-19 merupakan kehendak Allah SWT, dan manusia berkewajiban untuk berikhtiar. Kelompok itu berusaha mendapatkan takdirNya yang terbaik. Memang, kata dia, ketika qadha dan qadarNya berlaku, maka manusia harus menerima takdir tersebut, karena itu merupakan ketetapan yang terbaik.
“Kalau kita membaca Al-Qur’an maka ada sebagian manusia itu yang berimannya kepada Allah itu ‘ala harfin, berimannya itu di pinggir-pinggir saja, setengah-setengah saja. Yang kalau mereka itu diuji dengan musibah yang baik mereka diam saja tetapi ketika mereka diuji dengan musibah yang tidak baik mereka balik pandang dan menyalah-nyalahkan keadaan dan sebagainya,” tutur Mu’ti.
Mu’ti mengajak masyarakat menganggap covid-19 sebagai bagian dari musibah atau ujian dari Allah SWT. Sebuah ujian yang tidak bisa ditolak. Pandemi covid-19, kata dia, merupakan cara Allah meningkatkan kemuliaan dan ketinggian martabat manusia Indonesia sebagai bangsa. covid-19 pula menjadi ujian untuk keimanan manusia.