Prof Abdul Mu'ti: Agama dan Sains Tak Dapat Dipisahkan
Muhajirin
Rabu, 04 Agustus 2021 - 10:31 WIB
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dan Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Abdul Muti, M.Ed (foto: schmu.id)
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed menegaskan bahwa agama Islam dan ilmu pengetahuan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Wajah ideal Islam adalah tidak mendikotomikan posisi agama dan posisi ilmu pengetahuan.
Dia mencontohkan pandemi Covid-19 yang meningkatkan penemuan dan teknologi pelayanan kesehatan yang baru. Riset-riset tersebut memberikan pandangan dan perspektif mengenai pandemi saat ini semakin banyak.
“Sains dan agama itu berjalan seiring seirama. Agama memberi kita panduan yang bersifat wahyu, revelation, tapi kemudian ilmu memberikan panduan yang berbasis penelitian, kemudian menjadikan kita terus-menerus memperbaiki dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Prof Mu’ti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Rabu (4/8/2021).
Prof Mu’ti menjelaskan, agama Islam memberikan manusia satu spirit transendental, yakni setiap upaya bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Sebab, kata dia, semua perbuatan jika diniatkan karena Allah apalagi untuk menolong sesama manusia adalah bagian dari ibadah.
Menurutnya, pandangan harmonis antara sains dan agama sangat penting, karena akan menentukan cara seseorang menyelesaikan masalah. Apalagi, hampir semua agama di dunia memiliki kegagapan dalam memposisikan sains dan wahyu.
“Pandangan-pandangan yang cenderung fatalistis itu tidak hanya ada di kalangan umat Islam saja. Di agama lain banyak juga yang tidak percaya dengan Covid-19, banyak juga yang tidak mau mengikuti panduan dari pemerintah dan dari para ilmuwan tentang pentingnya protokol kesehatan dan berbagai hal lain yang bersifat ikhtiar ilmiah, dan ikhtiar manusia agar selamat dari penularan Covid-19,” tutur Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Jakarta ini.
Dia mencontohkan pandemi Covid-19 yang meningkatkan penemuan dan teknologi pelayanan kesehatan yang baru. Riset-riset tersebut memberikan pandangan dan perspektif mengenai pandemi saat ini semakin banyak.
“Sains dan agama itu berjalan seiring seirama. Agama memberi kita panduan yang bersifat wahyu, revelation, tapi kemudian ilmu memberikan panduan yang berbasis penelitian, kemudian menjadikan kita terus-menerus memperbaiki dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” kata Prof Mu’ti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Rabu (4/8/2021).
Prof Mu’ti menjelaskan, agama Islam memberikan manusia satu spirit transendental, yakni setiap upaya bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Sebab, kata dia, semua perbuatan jika diniatkan karena Allah apalagi untuk menolong sesama manusia adalah bagian dari ibadah.
Menurutnya, pandangan harmonis antara sains dan agama sangat penting, karena akan menentukan cara seseorang menyelesaikan masalah. Apalagi, hampir semua agama di dunia memiliki kegagapan dalam memposisikan sains dan wahyu.
“Pandangan-pandangan yang cenderung fatalistis itu tidak hanya ada di kalangan umat Islam saja. Di agama lain banyak juga yang tidak percaya dengan Covid-19, banyak juga yang tidak mau mengikuti panduan dari pemerintah dan dari para ilmuwan tentang pentingnya protokol kesehatan dan berbagai hal lain yang bersifat ikhtiar ilmiah, dan ikhtiar manusia agar selamat dari penularan Covid-19,” tutur Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Jakarta ini.
(jqf)